Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang bijak adalah orang yang mempersiapkan dirinya dengan beramal untuk bekalan selepas matinya. Manakala orang yang tidak bijak adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan kemudian mengharap pertolongan Allah." (HR Tirmidzi)

Minggu, 18 Agustus 2013

Dirgahayu RI 68

17 Agustus 1945 - 17 Agustus 2013. Sudah 68 tahun negara kita, Indonesia, merdeka. Dengan usia 68 tahun tersebut, kita sebagai warga negara yang baik, ada hal-hal yang perlu dipikirkan dan direnungkan.


Berikut saya publikasikan postingan facebook yang saya buat kemarin (17-08-2013) ...


Bertanya seorang anak kepada ayahnya, "yah, menurut ayah apa arti peringatan HUT kemerdekaan RI yang ke-68 ini?"

Dijawab oleh ayahnya, "setiap tanggal 17 agustus kita bangsa Indonesia selalu memperingati hari proklamasi kemerdekaan Indonesia, agar tidak lupa dengan sejarah perjuangan bangsa. sesungguhnya momen ini jangan hanya dijadikan sebagai hari mengingat sejarah saja, lebih daripada itu jadikanlah momen peringatan hari kemerdekaan negara kita ini sebagai SPIRIT untuk ikut berjuang dalam konteks kekinian."

"Apa-apa saja itu yah yang perlu diperjuangkan saat ini?" si anak bertanya kembali.

"ooh..banyak sekali nak.. memang negara kita ini sudah merdeka, tetapi sejatinya masih terjajah dan menyimpan begitu banyak persoalan, beberapa persoalan itu di antaranya, hutang yang bertumpuk, kemiskinan, ketimpangan sosial, pembangunan yang tidak merata, KKN, kapitalisme asing, liberalisme, pemikiran yang terjajah, agama yang hanya dijadikan sebagai ritual rutin, kehidupan masyarakat cenderung bebas yang semakin jauh dari nilai-nilai agama dan kearifan lokal, dan masih banyak yang lainnya.

persoalan2 itulah yang menjadi tantangan untuk kita selesaikan dan perjuangkan sebagai generasi penerus bangsa. ingat nak, nasib bangsa dan negara ke depannya ada di tangan kalian para pemuda. untuk itu, jangan sia-siakan masa muda dengan perkara yang tak bermanfaat, hura-hura, ngumpul tak jelas, banyak bermainnya, dsb. perlahan demi perlahan itulah yang akan merusak masa depan kalian kelak.

tugas kalian adalah belajar dengan baik, agar menjadi anak yang berguna bagi agama, bangsa dan negara", jawaban sang ayah.

"baiklah yah, terima kasih atas penjelasannya. mendengar penjelasan ayah tadi, saya jadi makin bersemangat untuk belajar dan buat prestasi sebanyak mungkin."

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA yang ke-68.
Jadilah bangsa yang mandiri, bangkit dari keterpurukan, dan jayalah selalu...

Selasa, 30 Juli 2013

Cerita setelah Tarawehan

Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Sahabat pembaca yang saya cintai karena Allah.
Mari kita berbagi cerita dan inspirasi.


Tadi selepas tarawihan di masjid dekat rumah, alhamdulillah bisa ikut tadarusan lagi. Kemudian yang lebih penting, saya ikut nimbrung nih ngobrol bareng orang tua dan pengurus masjid di situ.. Sudah lama gak ikut karena kuliah, jadi agak kikuk.. Hehe..

Berkesan, banyak problem dan ide yang dapat saya simak dari obrolan tersebut, setidaknya ada 3 hal yang benar-benar jadi perhatian saya pribadi.

1. kurangnya semangat anak-anak muda buat bergabung jadi remaja masjid, setiap kali dibentuk, ndak lama pasti menghilang.

2. kurangnya persatuan antar pengurus-pengurus masjid di Ngabang disebabkan tidak adanya forum koordinasi.

3. banyak umat yang belum paham mengenai fardhu kifayah.

Dibalik itu semua, para orang tua khususnya pengurus masjid, sesungguhnya mereka sangat berharap sekali kepada kita2 ini, para anak muda mau aktif dan semangat mendalami Islam, karena proses regenerasi itu pasti, dan kita2 lah yang bakal menggantikan mereka nantinya.

Hm.. ngobrol sama orang tua itu asyik, banyak hal yang dapat diambil dan pelajari untuk bekal kita menyongsong hari tua kelak. ^^

So, buat sahabat sekalian, jangan sungkan atau menutup diri ya dari orang tua...

Minggu, 30 Juni 2013

Indonesia Butuh Pemimpin Bermoral dan Pro-Rakyat

Oleh : MUHAMAD SADIKIN (Prodi IP Pontianak)

Indonesia merupakan Negara yang demokratis. Ini diakui tidak saja oleh rakyat Indonesia, tapi juga di mata dunia. Indikator utama dari perwujudan Negara yang demokratis ialah adanya keterlibatan atau partisipasi rakyat Indonesia secara langsung di dalam pemerintahan. Bentuk partisipasi rakyat diwujudkan dalam keikutsertaannya pada saat Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Partisipasi tersebut dalam bentuk suara atau dukungan untuk memilih pemimpin yang akan menjadi representatif atau wakil rakyat dalam pemerintahan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial dan memperjuangkan hak-hak dasar rakyat. Namun partisipasi rakyat tidak hanya sampai di situ saja (saat Pemilu dan Pilkada), setelah pelaksanaan Pemilu dan Pilkada rakyat masih diberikan kesempatan untuk ikut berpartisipasi di dalam pelaksanaan pemerintahan termasuk ikut mempengaruhi penentuan kebijakan publik. Di dalam sistem Negara yang demokratis semua itu telah diatur. Karena pada dasarnya demokratis ialah pemerintahan yang berasal dari rakyat, seperti yang dikemukakan oleh Abraham Lincoln bahwa demokratis itu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Sehingga tujuan dari pelaksanaan sistem demokrasi di dalam suatu Negara semata-mata untuk mewujudkan kesejahteraan sosial (social welfare). 

Dengan adanya sistem demokrasi di suatu Negara melalui Pemilu dan Pilkada nya dapat melahirkan lebih banyak pemimpin publik yang dipilih secara langsung oleh rakyat. Dengan adanya penerapan sistem pemilihan yang melibatkan partisipasi masyarakat secara langsung, membawa dampak yang cukup positif bagi pembangunan baik di level nasional maupun daerah. Secara nasional kita dapat melihat bahwa prestasi pembangunan dan perekonomian Indonesia sejak lahirnya era reformasi mengalami peningkatan. Mengapa dalam tulisan ini yang menjadi tolak ukurnya adalah sejak era reformasi? Di sini bukan berarti sebelum era reformasi pembangunan dan perekonomian Indonesia itu tidak baik. Tetapi jika kita flashback ingatan kita sesaat sebelum reformasi lahir, ketika itu Indonesia sedang mengalami krisis multidimensi, tidak hanya krisis ekonomi, moneter, dan kepemimpinan, juga krisis yang melingkupi seluruh aspek kehidupan masyarakat. 

Krisis dan segala persoalan bangsa yang pernah dialami Indonesia dan Negara lainnya, tidak dapat kita pungkiri bahwa pengaruh utamanya adalah karena seorang pemimpin. Pasca reformasi itulah secara perlahan Negara Indonesia kembali berbenah dengan menentukan dan menerapkan sistem yang baik dan benar, sistem yang berpihak kepada rakyat. Alhasil, Indonesia mengalami perkembangan pembangunan dan kemajuan perekonomian yang cukup signifikan dengan menunjukkan kenaikan angka yang positif, angka kemiskinan menurun dan tingkat pengangguran semakin kecil. Ini menunjukkan sebuah prestasi yang baik yang dicapai dengan adanya reformasi dan sistem demokrasi di Negara Indonesia.


Cita-cita negara yang sejahtera sangat erat kaitannya dengan peran dari seorang pemimpin untuk mewujudkannya. Terlepas dari sumber daya manusia sebagai pendukung utama, peran pemimpin memiliki posisi yang sangat urgen karena di sini segala kebijakan dan program yang berhubungan dengan rakyat yang menjadi penentu atau pengambil dan pembuat keputusan datangnya dari pemimpin. Oleh karenanya pemimpin memiliki tanggung jawab untuk mengambil keputusan terhadap kebijakan dan program yang berpihak kepada rakyat. Dari sini terlihat bahwa posisi pemimpin publik tidak hanya sebagai pemimpin sebuah organisasi pemerintahan melainkan juga sebagai pemimpin bagi rakyat atau orang banyak. Terhadap posisi inilah seharusnya seorang pemimpin memiliki kesadaran yang tinggi bahwa ia memiliki tanggung jawab dan amanah yang besar bagi jabatan yang dimilikinya serta mau menjaga dengan baik amanah tersebut, sehingga imbasnya segala kebijakan maupun program yang dibuat benar-benar berpihak kepada rakyat, bukan kebijakan dan program dibuat untuk kepentingan pribadi atau kelompok-nya dan kepentingan pencitraan. 

Dalam organisasi publik atau pemerintahan, posisi pemimpin memiliki peran yang besar sebagai penghubung antara organisasi yang dipimpinnya dengan masyarakat yang merasakan langung dampak dari kebijakan dan program yang dibuat serta sikap dan perilaku dari seorang pemimpin. Dalam hal ini pemimpin memiliki pengaruh yang besar terhadap keberhasilan suatu kebijakan dan program, terhadap citra dan kinerja organisasi, dan terhadap citra dan kinerja pemimpin itu sendiri. Sebagaimana yang diutarakan oleh Sudriamunawar (dalam Harbani Pasolong:2010), pemimpin adalah seseorang yang memiliki kecakapan tertentu yang dapat mempengaruhi para pengikutnya untuk melakukan kerjasama ke arah pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Kemudian dilanjutkan oleh Rivai (2004) menyatakan pemimpin adalah anggota dari suatu kumpulan yang diberi kedudukan tertentu dan diharapkan dapat bertindak sesuai kedudukannya. Dari dua penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kedudukan seorang pemimpin sangat penting bagi kinerja suatu organisasi karena ia mempunyai pengaruh yang besar untuk menjalankan organisasinya. Sehingga menjadi persoalan atau masalah apabila pemimpin dalam menjalankan perannya tidak bertanggung jawab dan tidak amanah. Karena sesungguhnya peran pemimpin tidak saja sebagai penentu kebijakan tapi lebih daripada itu ia sebagai contoh dan tauladan bagi orang yang dipimpinnya. 

Namun apabila kita cermati dengan baik selama perjalanan dan perkembangan sistem demokrasi itu sendiri, pemimpin-pemimpin yang ada di Indonesia ini cukup banyak yang tidak amanah dan tidak bertanggung jawab terhadap kedudukan yang ia miliki. Sejarah mencatat bahwa semenjak tahun 2004 sampai Februari 2013 sudah ada 291 kepala daerah, baik gubernur/bupati/walikota yang terjerat kasus korupsi. Tidak hanya kepala daerah, anggota legislatif pun ikut terjerat korupsi, di DPRD kabupaten/kota tercatat sebanyak 431 orang dan DPRD Provinsi 2.545 orang, jumlah itu 6,1 persen dari total 18.275 anggota DPRD se-Indonesia (Rakyat Merdeka Online, 14 Februari 2013). Data tersebut baru di level daerah, sedangkan di level nasional banyak pula pemimpin yang terjerat kasus korupsi, baik itu anggota DPR-RI, Pejabat Kementerian, bahkan Menteri pun ada yang ikut terjerat. Oleh karenanya kita tidak dapat menutup mata dan telinga melihat dan mendengar realita bahwa negeri kita tercinta ini, Indonesia sedang mengalami krisis kepemimpinan. Dibalik prestasi yang dicapai secara nasional, ternyata Indonesia mengalami krisis pemimpin yang amanah, bertanggung jawab dan pro-rakyat. 

Selain krisis kepemimpinan, dikatakan oleh Jusuf Kalla dalam Konferensi Guru Besar Indonesia IV, bahwa Indonesia juga sedang mengalami proses penurunan (degradation) dalam segala bidang seperti antara lain dalam kualitas, moral, disiplin, etos kerja dan cinta Tanah Air. Dari berbagai macam degradasi, degradasi yang sangat menyakitkan adalah bahwa kita tidak lagi cinta Tanah Air. sebagian besar pertambangan di Indonesia, terutama di Papua (90%) dikelola dan diambil hasilnya oleh pihak asing. Di Batam, tanah dan di pulau-pulau kecil lainnya di perairan kawasan Utara dan Timur Laut Provinsi Riau dan Kepulauan Riau, dikeruk, diambil dan dijual kepada Singapura (dengan harga sangat tak berarti) untuk reklamasi. Beribu-ribu meter kubik balok kayu dari kawasan perbatasan Kalbar, Kaltim, Riau dan Papua yang masing-masing masuk ke kawasan tetangga, dikirim ke negara asing lewat kapal. Kemudian dilanjutkan oleh Amien Rais bahwa Indonesia akan sulit mencapai Negara yang sejahtera (welfare state) dikarenakan Indonesia sudah lama masuk di dalam cengkeraman kekuasaan korporatokrasi Internasional. Kekuasaan asing yang menyebabkan bangsa Indonesia terhimpit oleh ketergantungan Internasional yang parah (Alqadrie, dalam Ptk. Post, 20/12-2012:1). 

Dari berbagai persoalan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia baik dari krisis kepemimpinan sampai kepada persoalan Indonesia yang sudah masuk dalam cengkeraman kekuasaan asing, menurut hemat penulis akar dari persoalan itu semua adalah ada pada seorang pemimpin, karena pemimpin lah yang memiliki kekuasaan tertinggi di dalam pengambilan suatu keputusan dan kebijakan. Pemimpin yang baik dan amanah sudah tentu ia akan memihak kepada rakyat. Namun persoalan di negeri ini, banyak pemimpin yang tidak amanah dan tidak pro terhadap rakyat. Sehingga dari persoalan ini muncul pertanyaan, lalu seperti apa pemimpin yang ideal bagi negeri ini? 

Menanggapi masalah kepemimpinan yang ideal, sudah banyak teori yang berbicara masalah tersebut. Salah satunya menurut Kouzes dan Posner (1995) mengemukakan lima dasar kepemimpinan teladan: (1) challenge the process (menantang proses); (2) inspire a shared vision (menginspirasi dan visioner); (3) enable others to act (dapat menggerakkan orang lain); (4) model the way (menjadi contoh); dan (5) encourage the heart (dapat memberi semangat). Dari sekian banyak teori yang telah diungkapkan, kemudian disesuaikan dengan pemimpin-pemimpin yang ada, ternyata pemimpin yang tersandung masalah atau masuk dalam kategori pemimpin yang tidak amanah dan tidak bertanggung jawab adalah pemimpin yang tidak bermoral dan tidak beretika. Oleh karenanya negeri kita ini sangat membutuhkan pemimpin yang bermoral dan pro terhadap rakyat. Karena pemimpin-pemimpin yang tersandung masalah seperti korupsi, pelecehan seksual, dan lain sebagainya sesungguhnya adalah pemimpin tak bermoral dan tak beretika.


Melihat banyak kasus yang menjerat para pemimpin di negeri ini, rakyat Indonesia dituntut harus cerdas dan selektif di dalam menentukan pilihannya, jangan sampai salah pilih pemimpin. Pemimpin yang baik tentunya memiliki track record yang baik pula. Dan tidak salah jika rakyat ikut mempertimbangkan aspek spiritual dari seorang pemimpin, karena aspek spiritual ini erat kaitannya dengan pembentukan moral seseorang. Tapi realitanya justru bertentangan, bahwa sekalipun pemimpin itu baik agamanya, justru melakukan tindakan yang tak mencerminkan moral dan etika yang baik. Persoalan ini sejatinya bukan mengurangi peran penting agama itu sendiri di dalam pembentukan sikap moral dan etika seseorang. Namun ketika seorang pemimpin melalaikan ketaatannya terhadap apa yang diperintahkan dan dilarang oleh agamanya, terbuai oleh nafsu duniawi dan menyepelekan keberadaan Tuhan Yang Maha Kuasa, saat itulah ia akan menjadi orang tidak bermoral. Ia tidak mampu mempertahankan ketaatannya tersebut atau sering kita kenal dengan tidak istiqomah. Istiqomah memiliki arti sifat yang teguh pendirian, punya komitmen dan konsisten. 

Kita semua tentunya sangat menginginkan pemimpin yang bermoral dan beretika, karena pemimpin yang demikian sudah barang tentu ia akan memihak kepada rakyat, segala kebijakan dan program yang dibuat semata-mata ditujukan untuk mensejahterakan rakyat sehingga terbentuklah negara yang sejahtera (welfare state) seperti yang kita impikan. Untuk membentuk pemimpin yang bermoral tersebut, sejatinya tidak cukup hanya dari aspek ke-istiqomah-an nya saja, ia juga perlu aspek muamalah dan hikmah. Mualah ialah kemampuan sosial, ia akan mengutamakan kepentingan rakyat dan tidak akan egois, sehingga ketika pemimpin tersebut akan membuat sebuah kebijakan atau program, ia akan menghimpun rakyat, menerima masukan, kritik dan saran, dan mempertimbangkan dengan matang apa yang akan ia putuskan. Sedangkan hikmah ialah mengambil pelajaran dari perspektif yang berbeda, ia tidak mau mengikuti lingkungan yang salah karena ia tetap menjunjung tinggi nilai atau aturan yang berlaku (kejujuran). Ketiga aspek inilah (istiqomah, muamalah dan hikmah) ketika seseorang dapat menjalankannya maka ia dapat digolongkan ke dalam orang yang bermoral dan beretika. 

Melalui tulisan ini penulis menyatakan bahwa Negara Indonesia yang sudah menjadi negara yang demokratis ini harus tetap dipertahankan. Segala persoalan yang muncul selama perkembangannya, bukanlah disebabkan pada persoalan sistem demokrasi itu, tetapi lebih disebabkan pada pengelolaannya yang tidak baik dan adanya pemimpin yang tidak amanah dan tidak bertanggung jawab karena tidak memiliki sikap yang bermoral dan beretika. Oleh karenanya pemimpin-pemimpin yang seperti itulah yang harus diganti dan jangan dipilih ketika pemilihan umum dilaksanakan. Sehingga ke depannya kita semua berharap dengan adanya pemimpin yang bermoral dan pro-rakyat, Indonesia dapat menjadi negara yang sejahtera (welfare state) dan bebas korupsi.

Minggu, 09 Juni 2013

Crosswords Puzzle, Sebuah Titipan

Berikut saya akan bercerita tentang buku yang saya beli ketika IB.

“Crosswords Puzzle” adalah sebuah buku yang berisikan puzzle kosong untuk diisi dengan kosakata bahasa inggris, puzzle tersebut mirip dengan TTS (Teka-Teki Silang) yang biasa kita isi. Bedanya Crosswords Puzzle ini pernyataan yang diberikan menggunakan bahasa Indonesia namun kotak kosong harus kita isi dengan menggunakan kata bahasa Inggris.

Crosswords Puzzle ini akan membantu siapa saja yang ingin belajar dan menambah perbendaharaan kosakata dalam bahasa Inggris dengan cara mengasyikkan. Mengasyikkan karena rasa penasaran yang dimunculkan dari kotak-kotak kosong di antara beberapa huruf serta beberapa kata yang sudah terpecahkan membuat aktivitas mengisi Crosswords Puzzle ini semakin seru. Praktis, karena bisa dikerjakan di mana saja dan kapan saja. Bermanfaat, karena sebagai salah satu bentuk permainan kata, mereka yang ‘bermain’ crosswords tanpa disadari sedang belajar bahasa, khususnya untuk memperluas dan memantapkan perbendaharaan kosakata yang dimiliki.

Gambar buku Crosswords Puzzle
Mengapa saya menulis tentang buku ini? Karena buku inilah yang saya beli kemarin (Sabtu, 8 Juni 2013) di toko buku Gramedia Mall Ayani Pontianak ketika pelaksanaan IB (Izin Bermalam). Waktu siang hari hingga menjelang maghrib saya habiskan bersama teman saya Kristianus di toko tersebut untuk sekadar membaca dan menjelajahi buku-buku yang menarik. Cukup banyak buku yang membuat saya tertarik untuk dibeli. Namun karena kantong sedang kering (kanker), hasrat saya itupun harus tertunda..hehe.. Pada akhirnya saya hanya membeli 3 buah buku yaitu Crosswords Puzzle, Meraba Indonesia dan Mutiara Pilihan Kitab Al-Hikam.

Gambar buku Meraba Indonesia
Buku “Meraba Indonesia” adalah buku yang bercerita tentang gambaran seluruh wilayah yang ada di Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Cerita di dalam buku “Meraba Indonesia” merupakan kisah nyata yang dialami oleh dua sekawan yang mengadakan petualangan untuk menjelajah bumi Indonesia dengan menggunakan sebuah sepeda motor. Di dalam perjalanan itu, bagaimana mereka melihat dan merasakan berbagai kehidupan di setiap daerah Indonesia. Hasil perjalanan mereka dari Sabang sampai Merauke inilah mereka tuangkan dalam buku “Meraba Indonesia”. Sehingga saya sarankan apabila teman-teman sekalian ingin mengenal Indonesia lebih jauh maka buku ini bisa dijadikan salah satu referensi.





Gambar buku Mutiara Pilihan Kitab Al-Hikam
Selanjutnya tentang buku “Mutiara Pilihan Kitab Al-Hikam”, buku yang berukuran kecil ini menghidangkan mutiara-mutiara hikmah yang berasal dari kitab Al-Hikam (kitab klasik yang sangat fenomenal). Kitab Al-Hikam merupakan karya Ibnu Athaillah As-Sakandary (w.709H/1309M) memuat banyak sekali mutiara hikmah. Namun di buku kecil ini berisi 33 mutiara pilihan dari kitab tersebut dengan olahan penjelasan yang sangat ringan, simple dan membumi. Kita pun dengan mudah menjumput mutiara kebijaksanaan tersebut. Buku ini dapat menjadi pijar untuk menerangi jalan kita dari riak tabir kehidupan fana ini untuk lebih mengenal Sang Yang Mahakuasa.

Oke..sekarang kita kembali ke cerita tentang buku Crosswords Puzzle. Ini berkaitan dengan judul tulisan di atas. Saya buat judul "Crosswords Puzzle, Sebuah Titipan". Yaa…buku ini memang sebuah titipan dalam artian bukan milik saya. Ceritanya buku ini saya beli untuk adik saya (Muhamad Wahyudi) di Ngabang. Kalau tidak karena buku titipan ini, mungkin pada hari Sabtu itu saya tidak akan ke toko buku dan lebih memilih untuk stay di asrama karena banyak sekali tugas yang menunggu untuk minta dikerjakan. Tapi itu bukan problem, sebagai abang yang baik wajib hukumnya untuk membahagiakan adik-adiknya. :)

Rabu, 29 Mei 2013

Menjadi Pemimpin yang Dekat di Hati

Banyak orang yang jago, ahli dan menguasai bidang kerjanya, mengeluh “suara”-nya tidak didengar atau bahkan kehadirannya disepelekan oleh rekan kerja lainnya.

Seorang karyawan, Ani, dengan nada frustrasi mengeluh, “Soal pengalaman dan hasil pekerjaan, saya lebih baik. Namun, rekan saya yang hasil kerjanya tidak hebat-hebat amat, lebih didengar. Dengan situasi ini, kecil kemungkinan saya bisa dipromosikan jadi manager.”

Lain lagi Ari, yang bekerja di perusahaan konsultan global terkenal. Proyek-proyeknya sangat penting. Dan, karena kesuksesannya, ia sering diminta menjadi pembicara di berbagai seminar. “Tapi, mengapa ya, saya punya ‘feeling’ bahwa orang tidak mengerti apa yang saya terangkan dan tidak mem-'buy in' apa yang saya anjurkan?”

Bila kita amati, memang banyak sekali masalah "pengaruh" di sekitar kita. Otoritas, pengangkatan seseorang menjadi direktur, manajer, ataupun pejabat sekalipun, tidak menjamin ia bisa diterima, disayang, di-“buy in” atau juga dikenang oleh orang di sekitarnya. Kita bisa patuh tanpa "suka" pada pemimpin kita.

Masyarakat memang bebas membeli simpati pada tokoh yang dipilihnya. Kita melihat banyak upaya pejabat untuk mengembangkan pencitraan dan kedekatan dengan rakyatnya. Kadang, semakin besar upayanya, malah semakin buruk pencitraannya. Setiap ungkapan, foto, bahkan pesan twitter-nya dikomentari negatif oleh masyarakat.

Sebaliknya, beberapa waktu lalu, kita melihat bagaimana orang berbondong-bondong, mengantarkan Ustadz Jeffrey ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dari berbagai penjuru lokasi, orang-orang datang untuk menyembahyangkan jenazahnya, mengingat-ingat kebaikannya. Seolah-olah tidak seorang pun punya keinginan untuk cepat-cepat menghilangkan kenangan almarhum dari benak dan kehidupannya. Bahkan kerendahan hatinya, keinginan beliau untuk tidak menonjol pun, malah menjadi "signature voice"-nya. Terasa benar ia “dekat”, disayang, dan “hadir” di hati masyarakat. Hampir-hampir, tidak ada satu media pun yang menyebut-nyebut hal negatif mengenai Uje. Apa yang sudah dilakukan almarhum? Mengapa ia begitu dekat di hati?

Kita tahu tidak sedikit orang memoles “tongkrongan” untuk meningkatkan pengaruh. Namun, sebaliknya, kita melihat tokoh yang tidak punya "tongkrongan", seperti contohnya Ibu Teresa, bisa memimpin barisan relawan yang jumlahnya beribu-ribu orang, disayang, direspek, diikuti, sama berpengaruhnya seperti wanita besi, Margareth Thatcher.

Apa yang membuat pemimpin mempunyai keberadaan kuat seperti ini? Apa yang membuat pengikut jatuh cinta pada pemimpinnya? Apa yang membuat bawahan mengagumi dan percaya pada apa yang dinyatakan pemimpinnya?

Pendapat bahwa karakter yang merupakan "bawaan" kepribadian, sangat menentukan pengaruh, tidak selalu benar, karena orang yang pendiam, kecil tidak keren pun terkadang bisa berpengaruh. Berarti benar, some things need to be believed to be seen, kata orang.

“Earned authority”
Dari beberapa contoh, kita bisa belajar bahwa otoritas pengikut atau masyarakat seringkali diperoleh seorang pemimpin setelah ia membuktikan “harga”-nya di depan mata-kepala pengikutnya, bukan karena cerita atau kata-kata. Banyak orang mengatakan bahwa pemimpin harus menjadi model, contoh bagi pengikutnya. Namun, seringkali hal itu pun masih tidak cukup.

Kita bisa melihat bahwa pamor yang dipancarkan seorang pemimpin benar-benar datang dari tingkah lakunya. Bila individu betul-betul serius ingin mengembangkan kedekatan dan pengaruhnya, ia mesti terlihat menciptakan hal-hal yang baik, bahkan perlu membuktikan kemampuannya menghadapi situasi-situasi sulit, berkonflik, dan mendesak.

Melalui situasi seperti itulah orang bisa menyaksikan obsesi, standar, dan fokus kita sebagai pemimpin. Melalui situasi sehari-harilah orang mengetahui bagaimana kita meng-approach orang lain, berbicara secara tulus dan jujur, dan bagaimana kita menyalurkan emosi kita secara positif.

Kita tentu pernah mendengar cerita Bung Karno yang rutin mengunjungi rumah-rumah pegawai istana dan menyomot tempe goreng masakan dari dapur rumah pegawai. Bila kita telaah, sebetulnya banyak hal yang bisa dilakukan untuk menunjukkan kita “hadir” untuk tim.

Kepala pabrik, bisa melakukan briefing harian di lapangan dan kemudian berkeliling pabrik untuk menegur dan menyapa bawahan. Kepala sekolah, kadang perlu berdiri di gerbang masuk, memberi salam pagi pada setiap murid. CEO pun bisa memilih untuk tidak berada di ruangan terpisah, makan siang di kantin, bisa disapa dan didatangi siapa saja.

Semua tingkah laku ini adalah contoh bagaimana orang bisa memancarkan pamornya yang didasari ketulusan, nilai-nilai yang jelas, dan keyakinan diri. Tidak ada kekhawatiran bahwa kedekatan membuat anak buah “kurang ajar”. Tidak ditemui juga niat untuk “jaga image”.

Bisa kita bayangkan, bagaimana reaksi para follower bila pemimpin seperti ini mengajak untuk melakukan sesuatu. Otoritas tidak penting di sini, otoritas seolah sudah mengalir dalam diri pemimpinnya.

Hadir “apa adanya”
Membaur dengan bawahan atau rakyat, bukan berarti kita benar-benar "menyamakan" diri. Sebagai leader, kita mempunyai kewajiban memberi arah. Namun, dari pengalaman menghadapi satu situasi bersama, bawahan akan merekatkan perasaannya pada leader-nya. Itu sebabnya, mau tidak mau, pemimpin perlu berhati-hati dalam tindakannya.

Pemimpin perlu memiliki ketajaman persepsi dan kesiapan ekstra. Kesalahan atau masalah, perlu ditangani dengan bijaksana, tidak diulang. Bahkan, orang lain perlu menyaksikan bahwa kita sebagai pemimpin memiliki jiwa pembelajar dan berguru pada pengalaman. Walau kita tahu bahwa pemimpin perlu mempunyai visi dan pandangan jauh ke depan, orientasi "here and now"-nya tetap harus kuat.

Keberadaan pemimpin sangat berpengaruh pada spirit anak buah, untuk itu ia perlu hadir dalam proses “being in the zone”. Jadi, seorang pemimpin tidak bisa membiarkan dirinya tidak tahu apa-apa, apalagi mengatakan bahwa saat kesalahan terjadi, ia kebetulan tidak hadir di situ.

Tindakan seperti ini bukan sekadar menandakan tidak bertanggung jawabnya seorang pemimpin, tapi juga ketidakmampuannya untuk berlaku sebagai pemimpin. Pemimpin perlu bertindak apa adanya, merasa comfortable dengan dirinya, sehingga membiarkan dirinya terekspresikan apa adanya. Kita perlu ingat, kehadiran bukan suatu respons melainkan suatu pancaran yang dirasakan orang lain, secara kontinyu. Bukan sekali-sekali.

*(Eileen Rachman/Sylvina Savitri, EXPERD Consultant)
From: http://female.kompas.com/read/2013/05/29/09351066/Menjadi.Pemimpin.yang.Dekat.di.Hati?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kanawp

Jumat, 03 Mei 2013

Sekilas tentang PRODI IP Pontianak


Sejarah Pembentukan PRODI IP

Prodi IP atau Program Studi Ilmu Pemerintahan merupakan sebuah program studi ketiga di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura (FISIP-UNTAN). Lahirnya ide pembentukan Program Studi Ilmu Pemerintahan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan pemerintah (Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Kalimantan Barat) yang sangat mendesak terhadap tenaga ahli di bidang ilmu pemerintahan. Oleh karenanya Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat beserta Pemerintah Kabupaten/Kota-nya melalui Badan Pendidikan dan Pelatihan (Bandiklat) Provinsi Kalimantan Barat mengadakan kesepakatan bersama FISIP-UNTAN untuk melakukan kerjasama dalam penyelenggaraan program pendidikan dengan pola kedinasan. Penyelenggaraan Program Studi Ilmu Pemerintahan (Prodi IP) ini didasarkan pada Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 3945/D/T/2007 tanggal 23 November 2007, tentang Izin Penyelenggaraan Program Studi Ilmu Pemerintahan (S1) pada Universitas Tanjungpura. 



Visi dan Misi serta Motto Prodi Ilmu Pemerintahan


Visi
Visi Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP-UNTAN kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat adalah terwujudnya penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat) yang bermutu dalam bidang ilmu Pemerintahan, pelatihan keterampilan, dan pengasuhan mahasiswa sebagai pendukung penyelenggaraan pemerintahan daerah yang berdisiplin dan berdedikasi. 

Misi 
Misi Prodi ilmu Pemerintahan FISIP-UNTAN kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat adalah: 
1. Menyelenggarakan sistem pendidikan di bidang ilmu Pemerintahan yang berbasis pada penjaminan mutu. 
2. Melakukan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat maupun Pemerintah serta mempublikasikannya. 
3. Melakukan Pengabdian kepada Masyarakat dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi guna memberdayakan masyarakat. 
4. Menyelenggarakan sistem administrasi akademik yang berbasis pada perkembangan teknologi informasi. 
5. Mengadakan jaringan dengan menjalin hubungan kerjasama baik di tingkat lokal, regional, nasional maupun internasional. 
6. Menyelengarakan pelatihan terhadap mahasiswa sesuai kebutuhan penyelenggaraan pemerintah daerah. 
7. Menyelenggarakan kegiatan pengasuhan dan pembinaan disiplin mahasiswa serta pembinaan kader kepemimpinan yang berjiwa inovatif, kreatif dan responsif dalam tata pemerintahan. 

Motto
Dalam menjalankan aktivitasnya Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP-UNTAN kerjasama dengan Badan Pendidikan Dan Latihan Provinsi Kalimantan Barat berlandaskan pada Motto Program Studi Ilmu Pemerintahan yaitu “Belajar dan Berlatih untuk mengabdi.” 


Praja PRODI IP

PRAJA adalah sebutan untuk Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP UNTAN. Prodi IP dibentuk sebagai miniatur Kalimantan Barat karena praja yang mengenyam pendidikan di Prodi IP merupakan putra-putri hasil seleksi dari seluruh 14 Kabupaten/Kota se-Kalimantan Barat. Sehingga utusan dari tiap-tiap kabupaten/kota se-Kalimantan Barat ada di kampus Prodi IP Pontianak. 


Kampus PRODI IP 

Kampus dan asrama Prodi IP bertempat di lingkungan Badan Pendidikan dan Pelatihan (Bandiklat) Provinsi Kalimantan Barat beralamat di Jalan Gusti Johan Idrus No. 12 Pontianak Selatan tepat bersebelahan dengan SMAN 1 Pontianak. 


Tiga Pilar PRODI IP 

Dalam menjalankan proses pembelajaran, sistem pembelajaran yang berlaku pada Program Studi Ilmu Pemerintahan ini berbeda dengan program studi lain yang ada di FISIP-UNTAN. Sistem pembelajaran siswa ditetapkan dengan menggunakan 3 (tiga) pilar yaitu pendidikan, pelatihan, dan pengasuhan. 

1. Pilar Pendidikan 
Pilar ini memberikan kompetensi pengetahuan mengenai teoritis di bidang pemerintahan kepada praja. Bentuk yang dilakukan adalah dengan pelaksanaan perkuliahan umum yang sama dengan mahasiswa biasanya yang dimana berisikan mata kuliah dengan sks tertentu yang harus ditempuh tiap semesternya. 

2. Pilar Pelatihan 
Pilar ini memberikan kompetensi praktis bagi praja yang berkaitan dengan penunjang kegiatan di bidang pemerintahan. Pelatihan dilaksanakan setelah perkuliahan umum dan pengajarnya merupakan orang yang berkompetensi di bidangnya. Penyampaian bersifat praktis walaupun sering juga diselingi dengan tambahan teori sebagai penunjang. Pelatihan tersebut meliputi kemampuan berbahasa inggris, kearsipan, tata naskah dinas, pemerintahan kelurahan/desa dan kecamatan, sistem informasi kepegawaian, kependudukan dan pencatatan sipil, keprotokolan, dan lain sebagainya. 

3. Pilar Pengasuhan 
Pilar ini merupakan pilar terpenting. Pilar pengasuhan berisikan penanaman nilai kepada Praja sehingga mempunyai sifat dan kepribadian yang matang. Pengasuhan bertujuan membentuk Praja yang beriman, bertakwa, kedewasaan, sikap dan kepribadian yang baik sehingga dapat menumbuhkan nilai kepamongan. Kegiatan pengasuhan ini dilakukan secara keseluruhan mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Dalam pilar ini praja diharapkan mampu untuk memiliki rasa tanggung jawab, disiplin, mampu adaptif, kreatif, inovatif serta spritual yang baik. 


Dari ketiga pilar tersebut harapan dari terbentuknya Program Studi Ilmu Pemerintahan (PRODI IP) kerjasama Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dengan Universitas Tanjungpura Pontianak adalah dapat menghasilkan tenaga ahli di bidang pemerintahan yang profesional, berkarakter, berkualitas dan mempunyai jiwa kepamongan khususnya bagi Kalimantan Barat.

Kamis, 02 Mei 2013

Sebuah Kiriman untuk Gerakan Pramuka di Ngabang


Salam Pramuka !
Halo kakak-kakak sekalian apa kabar?

Sebuah kebahagiaan bisa melihat perkembangan Pramuka di kota Ngabang tercinta... Setelah sekian lama tidak aktif lagi di gugus depan.

Dulu saat saya masih aktif di gugus depan sekitar tahun 2008-2010 (3 tahun lalu), seingat saya di Ngabang cuma ada 2 gudep saja yang aktif yakni SMA 1 dan Maniamas (jika kurang mohon ditambah). Bahkan gudep di SMA 1 (Abdul Kahar) bisa dibilang gudep yang baru, setelah beberapa tahun divakumkan karena suatu alasan tertentu. Baru kemudian berdiri lagi pada tanggal 22 Februari 2008. Di situlah tonggak awal perjalanan pramuka di SMAN 1 Ngabang yang terlahir kembali.

Angkatan 1 & 2 Gudep Abdul Kahar di depan pintu keraton Ismahayana Ngabang, Kab.Landak - 2009


Berkat kreativitas, inovasi, usaha dan perjuangan keras dari anak-anak muda yang tergabung dalam keanggotaan secara turun-menurun, Pramuka Abdul Kahar masih bertahan dan berjaya hingga sekarang... Kita patut berikan apresiasi buat mereka agar ke depannya terus lahir anak-anak muda yang luar biasa seperti mereka di Kota Ngabang. Amiin...

Gudep Abdul Kahar ikut TSC - April 2013

Tidak hanya di SMA 1 dan Maniamas, saya dapat kabar gerakan pramuka di Ngabang makin tumbuh di sekolah-sekolah yang lain, dari SD, SMP, dan SMA. Ini adalah sesuatu yang membanggakan bagi kami-kami sebagai generasi terdahulu. Karena melalui gerakan pramuka kita dapat menjadikan generasi muda sebagai manusia mandiri, peduli, bertanggung jawab dan berpegang teguh pada agama, nilai dan norma masyarakat.

Semoga ke depannya Pramuka di Bumi Intan semakin terorganisir dengan baik dan lahir pemuda-pemudi yang peduli dengan nasib negara dan bangsa serta pembela masyarakat. Karena di tangan para pemuda lah Negeri ini akan jaya...

Kata Bung Karno :
"Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan ku cabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia"

Selasa, 30 April 2013

Asal Mula Nama Borneo dan Kalimantan



diambil dari :
http://abjaykutai.blogspot.com/2009/09/asal-usul-nama-borneo-dan-kalimantan.html

Asal Mula Nama Borneo

Sebelum bernama Kalimantan, pulau ini bernama Borneo. Asal mula nama Borneo adalah sebagai berikut:

Pada suatu peristiwa beberapa abad yang lalu, terdapat sebuah kapal layar berbendera asing yang berlabuh di Bandar Alalak, Kerajaan Banjar, Kalimantan Selatan. Rupanya kapal layar tersebut sebelumnya mengalami kerusakan berat sewaktu dalam perjalanan. Telah lama kapal itu di perbaiki, tetapi tidak juga membawakan hasil yang memuaskan. Kapal layar itu bernama "Borneo" dan di nakhodai oleh seorang kapten bernama "De Barito".

Karena masih merasa sangat khawatir tidak berhasil dalam perjalanan membawa dan mengangkut bahan rempah-rempah serta lainnya, maka kapal itu mereka tinggalkan begitu saja. Karena kapal layar yang mereka tinggalkan dalam keadaan rusak, lama kelamaan bertambah rusak, akhirnya tenggelam.

Kerangka kapal yang tenggelam masih di tahan oleh jangkarnya sehingga tidak terbawa larut oleh arus sungai yang deras. Dalam masa beberapa waktu lamanya kerangka kapal yang tenggelam masih berada pada tempatnya semula sehingga menjadi pampangan rerumputan serta kayu-kayuan yang datang dari hulu terbawa oleh arus. Jadilah kerangka kapal itu merupakan sebuah tumpukan yang di tumbuhi oleh rumput dan kayu-kayuan. Akhirnya tumpukan itu menjadi sebuah pulau kecil yang di namakan masyarakat Pulau Kambang, yang berarti pulau timbul dan terapung, yang dalam Bahasa Jawa di sebut ngambang atau terapung.

Ketika datang orang-orang Inggris sekitar tahun 1811, mereka langsung menyebut sungai di hadapan Pulau Kambang itu Barito dan pulau asal sungai Borneo. Nama ini di ambil dari nama kapal yang tenggelam dan nama kapten kapalnya.

Pulau Kambang, bekas Kapal Barito yang tenggelam tadi di huni oleh beberapa kawanan kera dan di tumbuhi oleh beberapa jenis pohon membentuk sebuah hutan.

Beberapa waktu yang lalu, sekelompok masyarakat ada yang datang ke Pulau Kambang dengan membawa pisang untuk makanan kera serta membawa kembang (bunga) untuk harum-haruman. Akhirnya Pulau Kambang lama kelamaan namanya berubah menjadi Pulau Kembang, yang artinya "Pulau Bunga". Sekarang pulau itu sebagai hutan lindung yang banyak di kunjungi wisatawan, baik wisatawan dalam negeri maupun luar negeri. Itulah asal-usul nama Sungai Barito, Pulau Borneo dan Pulau Kembang.

Asal Mula Nama Kalimantan

Nama Kalimantan terdiri atas dua suku kata, yaitu "kali" dan "mantan". Kali berasal dari Bahasa Jawa yang maksudnya sungai, sedangkan mantan berasal dari Bahasa Banjar, yaitu kata jumantan atau intan jumantan yang artinya kumpulan beberapa macam warna intan, di sebut intan berlian atau ratna mutu manikam. Jadi, pulau itu di namakan Kalimantan karena di situ terdapat sungai yang banyak mengandung intan berlian berlian atau ratna mutu manikam. Itulah cerita asal mula nama Kalimantan.


Dikutip dari buku Ilmu Pengetahuan Sosial Lokal Kalimantan Timur (Sugeng Adnan, 1995:34, 35)

Senin, 29 April 2013

Seleksi Mahasiswa Baru 2013

Antara SNMPTN, SBMPTN, dan Seleksi Mandiri

Baru tadi sore buka facebook, saya menerima kiriman dari junior pramuka (saat ini sedang berada di kelas 12 SMA) menanyakan tentang informasi pembukaan pendaftaran seleksi perguruan tinggi. Membaca hal tersebut, membuat saya tertarik dan bersemangat untuk sharing informasi. Kebetulan saya sedang online, saat itu juga lah saya browsing untuk mencarikan informasi yang dibutuhkan tersebut. Setelah beberapa halaman dibuka, saya menemukan gambar berikut : 




Gambar di atas menginformasikan kepada kita semua bahwa untuk seleksi mahasiswa baru perguruan tinggi negeri tersedia 3 (tiga) jalur:
  1. SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) 
  2. SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) 
  3. Seleksi Mandiri 

Saya mencoba kembali me-refresh ingatan saya ketika tahun 2010, dulu seingat saya SBMPTN ini belum ada, yang ada SNMPTN dan Seleksi Lokal diselenggarakan oleh tiap-tiap perguruan tinggi negeri, 2 (dua) jalur tersebut khusus untuk ujian tertulis. Sedangkan untuk ujian non tulis, ada PMDK yang seleksinya berdasarkan prestasi di sekolah melalui rapor. Ketiga jalur tersebut pada tahun 2010, biaya ditanggung oleh peserta sendiri.

Nah, lain hal dengan di tahun 2013 ini untuk seleksi penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2013/2014. SNMPTN dan SBMPTN merupakan dua hal yang berbeda. Bedanya, kalau SBMPTN ini adalah jalur seleksi baru secara ujian tertulis sebagai pengganti SNMPTN di tahun sebelumnya (SNMPTN 2010 = SBMPTN 2013).

Lalu SNMPTN sekarang itu bagaimana? Kalau sekarang, SNMPTN-nya berubah format menjadi seleksi yang didasarkan pada prestasi akademik siswa (rapor dan prestasi lainnya) dan biaya ditanggung oleh pemerintah. (SNMPTN 2010 ≠ SNMPTN 2013)

Jalur yang ketiga adalah seleksi mandiri. Ini jalur seleksi yang diselenggarakan oleh masing-masing perguruan tinggi negeri atau tidak serentak secara nasional. Dalam artian kebijakan mengenai jadwal, proses dan tahapan seleksi, hingga ke soal yang diteskan merupakan kebijakan perguruan tinggi bersangkutan. Sehingga sampai tulisan ini dibuat, untuk jadwal seleksi mandiri belum ada, khususnya Universitas Tanjungpura dimana penulis berada.

Untuk jalur SNMPTN dan SBMPTN informasinya ada. Kalau SNMPTN sudah dimulai sejak bulan 17 Desember 2012 – 8 Februari 2013 untuk pengisian PDDS (Pangkalan Data Sekolah dan Siswa)-nya, pendaftaran 1 Februari 2013 – 8 Maret 2013, sehingga bagi adik-adik kelas 12 saat ini sudah tidak bisa lagi ikut dalam proses seleksi SNMPTN karena jadwal pendaftaran sudah selesai. (www.snmptn.ac.id)

Namun jangan berputus asa dulu, karena masih ada jalur SBMPTN yang baru mulai dibuka pendaftarannya secara online dimulai dari tanggal 13 Mei 2013 pukul 08.00 WIB s.d 7 Juni 2013 pukul 22.00 WIB. Untuk dapat mengaksesnya silahkan browsing via computer ke alamat berikut : www.sbmptn.or.id . Di situ sudah lengkap tersedia bagaimana tata cara pendaftaran, jadwal, formulir, dan lain-lainnya.

Di akhir tulisan ini, saya berpesan kepada adik-adik yang akan berjuang lagi dalam ujian seleksi masuk perguruan tinggi. Perbanyaklah ibadah dan berdoa, belajar dan berusaha keras, dan kerjakan soal dengan jujur. Timbulkan keyakinan dan rasa percaya diri untuk menghadapi ujian yang akan dihadapi. Selamat berjuang !!!

Senin, 04 Maret 2013

KAYA dan MISKIN

(Disadur dari Lembaga Dakwah Uswatun Hasanah)

Kategori Kaya dan Miskin menurut Alquran dan Sunnah, ada manusia yang :
1. Miskin di dunia dan miskin pula di akhirat
2. Kaya di dunia juga kaya di akhirat
3. Kaya di dunia namun miskin di akhirat

Tentang orang yang miskin di akhirat, Al-Imam At-Tirmidzi di dalam sunnannya, (No. 2342) meriwayatkan bahwa Abu Hurairah RA mengabarkan bahwa Rasulullah SAW pernah pada suatu hari bertanya kepada para sahabat:

“Tahukan kalian siapa orang yang muflis (bangkrut dalam konteks Islam)?”

Para sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut menurut kami ya Rasulullah, ialah orang yang tidak mempunyai dirham (uang) dan (tak punya) harta benda”.

Rasulullah SAW berkata: “Orang yang bangkrut di kalangan umatku ialah orang yang pada hari kiamat datang dengan membawa (dosa) memaki si A, menuduh si B, memakan harta si C (termasuk memakan uang hasil utang yang diniatkan tidak dibayar), menumpahkan darah si D dan memukul si E, maka diambil kebaikannya lalu diberikan kepada orang yang dizaliminya. Kalau ternyata kebaikannya sudah habis, sedang dosanya masih ada, maka dosa orang yang dizaliminya itu dipikulkan kepadanya, lalu akhirnya dilemparkanlah ia ke dalam neraka…”. (HR. Muslim)

Kemudian kaya di dunia versi Rasulullah SAW sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Hiban, Abu Dzar RA berkata:

“Rasulullah SAW berkata padaku: “Wahai Abu Dzar, menurutmu, apakah banyaknya harta yang dinamakan kekayaan?”

“Benar”, jawab Abu Dzar.

Nabi bertanya lagi: “Apakah menurutmu sedikitnya harta berarti fakir?”

“Betul”, Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa.

Nabi lalu bersabda: “Sesungguhnya kekayaan adalah kayanya hati (hati selalu merasa cukup), sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati selalu merasa tidak puas)”.

KAYA HATI itu bagaimana sih ?

Ulama mengatakan: kaya hati adalah merasa cukup terhadap apa yang engkau butuhkan. Jika lebih dari itu dan terus engkau cari juga, maka itu berarti bukanlah ghina (kaya hati), tetapi miskin hati.

Hal ini sejalan dengan ucapan Al-Imam An-Nawawi RHM: “Kaya yang terpuji adalah kaya hati, yang selalu merasa puas dan tidak tamak dalam mencari kemewahan dunia. Kaya yang terpuji bukanlah dengan banyaknya harta dan terus menerus ingin menambah dan terus menambahnya. Siapa yang terus mencari dalam rangka untuk menambah kekayaan yang sudah ada, ia tentu tidak pernah merasa puas dan ia berarti bukan orang yang kaya hati”.

Namun bukan berarti kita tidak boleh kaya harta. Sebab Rasulullah SAW dalam ini bersabda: “Tidak apa-apa dengan kekayaan bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan”. Kaya harta itu tak tercela, yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qana’ah) dengan apa yang Allah SWT berikan.

Mudah-mudahan bacaan ini dapat dipahami dan membuat kita mengerti seperti apa kaya hati itu, yang insyaAllah jika kita paham maka tidak akan terpikir sedikitpun untuk melakukan tindakan yang mengarah ke KORUPSI.

Resume Buku Teori Konflik Sosial Bab 6

Nama : MUHAMAD SADIKIN
NIM : E.42010048
Kelas/Semester : A/VI
Jurusan : Ilmu Pemerintahan
Mata Kuliah : Manajemen Konflik
Dosen : Prof. Syarif Ibrahim Alqadrie, M.Sc

ABSTRAK

Dean G. Pruitt & Jeffrey Z. Rubin dalam bukunya yang berjudul Teori Konflik Sosial pada bab VI membahas proses-proses yang dapat menimbulkan eskalasi. Dijelaskan bahwa kondisi-kondisi yang berupa konflik yang mana paling mungkin dan paling tidak mungkin mengalami eskalasi. Melalui berbagai rantai peristiwa yang dialami oleh individu, kelompok, atau komunitas, Dean G. Pruitt & Jeffrey Z. Rubin mengemukakan bagaimana rantai peristiwa tersebut mengalami transformasi-transformasi sehingga mencapai puncak kondisi yang cocok untuk bereskalasi.

Melanjutkan keinginan dari Dean G. Pruitt & Jeffrey Z. Rubin pada resume bab VI ini dipaparkan mengenai peristiwa dan proses-proses yang menimbulkan eskalasi secara lebih ringkas, padat, dan jelas. Proses-proses tersebut diawali dari masa perkembangan pasca Perang Dunia II yakni Perang Dingin antara Amerika dan Uni Soviet yang menampilkan tiga model konflik yaitu agresor-defender, spiral-konflik, dan perubahan struktural. Eskalasi konflik juga dapat terjadi dari adanya perubahan psikologis, perubahan di dalam kolektif, dan polarisasi masyarakat yang menyebabkan konflik semakin jauh tereskalasi.


Kata kunci : Konflik, Eskalasi, Model, Perubahan


RESUME


Dean G. Pruitt & Jeffrey Z. Rubin dalam bukunya yang berjudul Teori Konflik Sosial pada bab VI yang diterbitkan oleh Pustaka Pelajar pada tahun 2009, menjelaskan tentang proses-proses atau rantai peristiwa yang dapat mengakibatkan seseorang atau kelompok atau komunitas terjebak dalam konflik dan menuju ke arah eskalasi. Dean G. Pruitt & Jeffrey Z. Rubin menjelaskan dengan menggunakan rangkaian peristiwa yang terjadi selama berkembangnya Perang Dingin antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet (tidak lama setelah tahun 1945) sebagai contoh eskalasi konflik.
Pada mulanya selama Perang Dunia Kedua antara AS dan Uni Soviet merupakan sekutu, tetapi Soviet memilih keluar dari peperangan dengan kecurigaan yang mendalam terhadap Barat. Kemudian Soviet mengontrol negara-negara yang berdampingan wilayah dengannya. Tahu akan hal ini, pada 1947 AS menanggapi tindakan Soviet dengan melakukan berbagai strategi bekerja sama dengan Negara Eropa lain di bidang militer dan ekonomi sebagai pertahanan lebih lanjut melawan ekspansi Soviet. Langkah AS ini dianggap oleh Soviet sebagai alarm yang keras. Konflik kedua Negara besar ini terus berlanjut dan semakin larut karena keduanya sama-sama saling bersikeras dengan kekuatannya masing-masing.

Tiga Model Konflik
Menurut Pruitt & Gahagan (1974) teori mengenai eskalasi dapat diklasifikasikan menjadi tiga model konflik yakni model agresor-defender, model spiral-konflik, dan model perubahan struktural. Pertama model agresor-defender, terdapat dua pihak berbeda yang saling konflik, “agresor” (pihak yang menyerang) yang memiliki suatu tujuan tertentu untuk mengubah hal-hal yang searah dengan kepentingannya. Keinginan perubahan tersebut mengakibatkan “agresor” terlibat di dalam konflik bersama pihak lainnya yakni “defender” (pihak yang bertahan) yang berusaha menolak perubahan tersebut. Untuk mewujudkan kepentingannya, sang “agresor biasanya memulai dengan taktik-taktik yang ringan, namun apabila tidak berhasil, ia akan berpindah ke taktik-taktik yang lebih berat dan berlanjut ke eskalasi. “Defender” hanya semata-mata bereaksi, ia akan semakin meningkatkan reaksinya sebagai respons terhadap eskalasi dari “agresor”. Eskalasi terus berlanjut sampai sang “agresor” menang atau menghentikan upayanya.
Kedua model spiral-konflik, yang menjelaskan bahwa eskalasi merupakan hasil dari suatu lingkaran setan antara aksi dan reaksi. Ada dua kelompok besar spiral-konflik: spiral retaliatory di dalamnya bersifat balas-membalas, masing-masing pihak menjatuhkan hukuman kepada pihak yang lain atas tindakan yang tidak menyenangkan (aversif). Berikutnya spiral defensif yang mana masing-masing pihak memberikan reaksi dalam rangka melindungi diri dari ancaman yang dirasakannya, jadi masing-masing pihak dapat dianggap sebagai agresor atau defender. Ketiga model perubahan struktural, menjelaskan bahwa konflik beserta taktik-taktik yang digunakan untuk mengatasinya menghasilkan residu berupa perubahan-perubahan yang terjadi baik pada pihak-pihak yang berkonflik maupun masyarakat di mana mereka tinggal.
Model perubahan struktural di dalamnya terdapat perubahan psikologis, biasanya ketika konflik bereskalasi berbagai sikap dan persepsi negatif terhadap lawan akan berkembang, pada tahap ini sifat egoisme memuncak, sudah tidak ada lagi kompromi dengan lawan, hampir tidak ada imajinasi dan kreativitas, serta amarah, ketakutan, dan harga diri yang terluka menjadi emosi yang dominan. Perubahan-perubahan ini terjadi di semua konflik yang tereskalasi, baik yang pelakunya perorangan maupun kolektif (kelompok, organisasi, atau negara). Hasil penggunaan taktik berat oleh pihak yang satu, kemudian memberikan sumbangan terhadap penggunaan taktik berat yang lebih jauh dari pihak lainnya. Jadi, konflik yang tereskalasi sering kali melemahkan kapasitas masyarakat untuk menangani konflik yang akan terjadi di masa mendatang dengan baik. Kemudian cara berpikir zero-sum (“yang baik untuk mereka, tidak baik untuk kita; dan begitupun sebaliknya) yang terbentuk masih pantas untuk diperhatikan di zaman modern ini.

Perubahan Psikologis
            Perubahan-perubahan psikologis ini yang banyak digunakan oleh penelitian, yaitu keinginan untuk menghukum (melakukan agresi) terhadap pihak lain, sikap dan persepsi negatif, dan deindividuasi. Keinginan untuk menghukum pihak lain atau agresi timbul sebagai akibat pengalaman-pengalaman aversif (tidak menyenangkan), seperti deprivasi, kegagalan mencapai aspirasi, perlakuan tidak adil, rasa sakit dan penderitaan, dan semacamnya. Selain itu agresi dapat timbul ketika hal yang tidak menyenangkan dianggap akibat dari kesalahan pihak lain, berikutnya juga timbul adanya perasaan amarah dan meningginya emosional. Pada tahap ini apabila masing-masing pihak melakukan tindakan yang sewenang-wenang maka akan terjadi saling menghukum, dan bahkan keinginan untuk menghukum bisa saja dialihkan ke target lain apabila seseorang tidak berani memukul atasan yang membuatnya marah.
            Sikap dan persepsi memiliki pengertian yang berbeda, sikap adalah perasaan positif atau negatif terhadap orang atau objek tertentu, sedangkan persepsi adalah kepercayaan mengenai atau cara memandang orang atau objek tersebut. Sikap dan persepsi negatif terhadap pihak lain dapat mempengaruhi ke dalam eskalasi konflik. Setiap orang tentu mempunyai perasaan negatif (atau positif) terhadap orang yang lain, maka perasaan tersebut cenderung dikuasai persepsi negatif (atau negatif) mengenai orang tersebut, sehingga pada saat tertentu harus dapat memperlakukan kedua elemen tersebut secara terpisah. Perubahan sikap dan persepsi negatif didorong oleh hal-hal seperti ketidakpercayaan, sikap negatif, cara berpikir zero-sum, dan keengganan berkomunikasi dengan pihak lain.
Kemudian deindividuasi yang dialami seseorang ketika ia dipersepsikan sebagai anggota kategori suatu kelompok daripada sebagai seorang individu, yang dapat mengurangi hmabatan untuk bertindak agresif. Orang yang ter-deindividuasi tampak “kurang manusiawi” dibanding mereka yang dianggap sebagai individu, sehingga sepertinya kurang terlindungi oleh norma sosial terhadap agresi. Dengan kata lain orang tersebut kehilangan kesadaran tentang ciri identitasnya sendiri, sebagai contoh deindividuasi seperti bertindak serupa dengan orang lain, mengenakan pakaian yang sama, rangsangan emosional, dan kurang tidur sehingga orang yang terindividuasi mudah untuk menjatuhkan hukuman terhadap orang lain.

Perubahan di dalam Kolektif
            Adapun hal-hal yang dapat menyumbangkan perubahan terhadap terjadinya eskalasi konflik, ketika kelompok, organisasi atau negara terlibat di dalam konflik yang contentious, adalah seperti diskusi kelompok yang sering menyebabkan sikap dan persepsi para anggota kelompok secara individual lebih ekstrem, terjadinya perkembangan norma tak terkendali (runaway norms), dan adanya kepemimpinan yang militan yang dapat mempengaruhi anggota kelompoknya untuk melakukan apa yang dikatakan oleh pemimpin mereka.

Polarisasi Masyarakat
            Pada tahap ini masyarakat dapat ikut terlibat di dalam konflik yang terjadi antara pihak-pihak yang di luar masyarakat. Biasanya pihak-pihak yang sedang berkonflik mereka menggabungkan dirinya dengan masyarakat, sehingga sulit bagi anggota masyarakat yang lain untuk tetap bersikap netral, karena seringkali para partisipan kontroversi mencari dukungan dari masyakarat untuk memilih bergabung dengan kelompoknya. Di dalam situasi semacam itu ada kecenderungan untuk saling menyalahkan dan menyebabkan banyak pihak ketiga ikut bergabung ke salah satu pihak yang dianggap lebih dekat dengannya. Ketika masyarakat mengalami polarisasi, maka konflik-konflik cenderung semakin jauh tereskalasi dan mengakibatkan lenyapnya pihak-pihak ketiga yang netral.


TANGGAPAN

Suatu konflik yang sedang terjadi apabila telah mencapai eskalasi, pertanda bahwa konflik tersebut mencapai tahap yang akut, di mana konflik tersebut akan terjadi secara berkelanjutan dan semakin jauh akan sulit untuk diselesaikan. Eskalasi konflik ini bisa saja terjadi kepada seorang individu, kelompok, komunitas dan bahkan suatu negara. Dengan kita membaca dan memahami isi daripada buku yang ditulis oleh Dean G. Pruitt & Jeffrey Z. Rubin berjudul Teori Konflik Sosial pada bab VI ini, maka kita akan mengetahui bagaimana proses-proses dari suatu peristiwa yang pada saat mencapai kondisi-kondisi tertentu akan menimbulkan konflik yang berkepanjangan dan semakin rumit. Pihak yang terlibat dalam konflik akan melakukan berbagai tindakan-tindakan keras berupa strategi untuk mengalahkan lawannya dan terus meningkatkan kekuatannya dengan tujuan agar pihak yang lain kalah, begitu seterusnya sehingga terjadi tindakan yang saling balas-membalas, inilah yang dinamakan eskalasi.
Pada dasarnya konflik yang terjadi antara satu pihak dengan pihak yang lain dapat disebabkan mungkin oleh faktor atau hal yang sepele, apabila diambil tindakan berupa solusi dengan cepat maka konflik itu akan dapat diselesaikan. Namun lain hal apabila konflik tersebut terus-terusan didiamkan sehingga munculnya perasaan yang saling mencurigai maka eskalasi konflik akan terjadi. Oleh karenanya dengan kita mengetahui dan memahami proses-proses yang menimbulkan eskalasi, tentunya diharapkan kita bisa menghindari hal-hal yang berpotensi menyebabkan timbulnya eskalasi konflik tersebut. Pada akhirnya kita semua berharap bahwa suatu tatanan yang telah terbentuk dapat berjalan dengan aman, damai dan tentram.

Kamis, 24 Januari 2013

Maulid Nabi Muhammad SAW 1434 H

Bismillahirrahmannirohim...

Dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah s.a.w bersabda: “Tiap-tiap Nabi yang diutus sebelum saya mempunyai pengikut-pengikut dan sahabat-sahabat yang terpilih dari umatnya masing-masing; mereka itu berpegang kepada contoh Nabinya dan menuruti perintahnya; kemudian setelah zaman itu berlalu mereka disambung oleh generasi yang hanya pandai berkata, tetapi tidak bekerja,dan bekerja tetapi tidak menuruti pedoman-pedoman Nabinya. Sesiapa menentang kaum itu dengan kekerasan, mu’minlah ia, menentangnya dengan perkataan, mu’min pula, dan menentangnya dengan hatinya mu’min juga; dan telah habislah iman dari orang-orang yang tidak menentang kemungkaran, walaupun dengan hatinya.” (Riwayat Muslim)

Assalammu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kalender pada hari ini tanggal merah ya ? Berarti libur donk.. Ya, hari ini tepatnya tanggal 12 Rabiul Awal adalah tanggal kelahiran Nabi Muhammad s.a.w yang kita sebut Maulid Nabi.

Pada tanggal 12 Rabiul Awal ini adalah hari yang spesial bagi ummat Islam, karena pada hari tersebut lahir sesosok manusia yang memberi cahaya bagi seluruh kehidupan alam semesta, Rasulullah s.a.w. Ketika beliau lahir, keadaan manusia pada saat itu sangat jauh dari nilai-nilai kebaikan, manusia tenggelam dan larut dengan kehidupan dunia yang gelap. Begitupun kondisi tempat dimana Rasulullah dilahirkan, terjadi konflik dan peperangan yang hebat, sangat sulit menciptakan perdamaian pada saat itu. Namun dengan kehadiran beliau hingga sampai saat ini, dunia dan kita semua telah merasakan bagaimana pengaruh yang dibawa olehnya.

Rasulullah s.a.w adalah sosok yang sangat luar biasa bagi ummat manusia, terlebih bagi ummat Islam. Pemikirannya, budi pekertinya, tingkah lakunya, ucapannya, dan kepemimpinannya. Subhanallah... Suatu anugrah yang tak terhingga atas restu Allah s.w.t beliau diturunkan menjadi pemimpin yang hebat, yang sukses membawa perubahan ketika ummat manusia dalam kondisi yang sangat terpuruk.

Saat ini saya kira kita sedang mengalami krisis moral, banyak praktik-praktik kehidupan yang dijalani oleh manusia jauh dari nilai-nilai Islami, lihat saja realitanya di sekitar kita. Kondisi yang seperti itu mengingatkan kita bagaimana kondisi ketika Rasulullah belum lahir, ya dengan kata lain kembali ke zaman purba, ummat manusia saat ini mengalami kemorosotan zaman.

Cobalah cari tahu dan mengingat kembali, banyak pelajaran dan hikmah yang dapat kita ambil dari perjalanan kehidupan Rasulullah s.a.w hingga beliau wafat. Apabila kita menyimak perjalanan dan perjuangan kehidupan beliau dengan sungguh-sungguh, itu tidak akan rugi. Oleh karenanya contoh lah keteladan yang ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w. Tidak cukup hanya sekedar untuk tahu, tetapi tahu dan amalkan. Jadilah sosok pejuang seperti Rasulullah s.a.w, keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan para mujahid yang terdahulu.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Baqarah ayat ke 218)

ALLAHUMMA SHOLLI 'ALA MUHAMMAD...
 

© 2009Life is Choice | by TNB