| Teman sedang latihan meniup terompet Sangkakala |
Setiap hari, baik subuh, pagi, siang, dan malam hari ada saja suara terompet yang ditiupkan di kampus/asrama Prodi IP tercinta. Kita semua tau bahwa suara tersebut menandakan suatu aktivitas, subuh misalnya ada tiupan untuk membangunkan tidur, terompet kumpul ketika mau apel, hingga malam hari untuk menandakan jam tidur. Di setiap aktivitas, bunyi alunan suara pun berbeda-beda. Adanya bunyi terompet itu bisa dibilang sesuatu yang unik yang ada di asrama, para praja jika mendengar suara terompet langsung bergerak melakukan aktivitas, dari yang tidur jadi bangun, dari yang diam-diaman jadi kasak-kusuk bergerak.
Lalu terompet apakah itu?
Adalah terompet sangkakala, berwarna kuning emas.
Lalu terompet apakah itu?
Adalah terompet sangkakala, berwarna kuning emas.
Mendengar bagaimana terompet sangkakala, kesannya mengerikan, yang terlintas di pikiran kita semua tentu adalah terompet yang nanti ditiupkan oleh Malaikat Isrofil pada saat hari menjelang kiamat, terompet sangkakala tersebut jika ditiupkan dapat menggemparkan dunia. Lain hal dengan terompet sangkakala yang satu ini yang ada di Prodi IP, terompet sangkakala oleh Malaikat Isrofil dapat menggemparkan dunia, maka terompet sangkakala Prodi IP dapat menggemparkan kampus/asrama Prodi IP. Bagaimana tidak? Karena suara tiupan terompet ini para praja dapat dibuat sibuk olehnya.
Segala aktivitas/kegiatan di Prodi IP bermula berjalan tergantung dari tiupan terompet sangkakala, begitulah apabila terompet ini tidak ditiupkan kondisi asrama lengang seperti tidak berpenghuni paling 1 atau 2 orang praja yang terlihat keluar. Oleh karena itu terompet ini dikatakan sakral, seperti yang disampaikan oleh Muda Praja Bartholomeus Betonino, jika tidak ada tiupan terompet maka tidak ada aktivitas/kegiatan, alunan bunyinya dinanti oleh penghuni asrama, jika tidak ada terompet kumpul maka tidak ada binsik, atau juga tidak ada seruan untuk makan, seperti itulah betapa pentingnya terompet sangkakala sebagai suatu panggilan. Para praja pun punya kesan masing-masing, ada yang suka mendengar alunan bunyinya sampai-sampai menirukan bunyi terompet itu, sampai kepada yang tidak menyukai jika terompet itu ditiupkan. Waspada dan bersiap-siap! Begitulah situasi para praja apabila sudah mendengar checksound dari terompet. Sehingga ketika terompet telah berbunyi, para praja siap untuk bergerak dan melakukan aktivitas.
Terompet sangkakala merupakan benda yang sakral di Prodi IP. Tidak ada terompet tidak ada aktivitas. Terompet sangkakala ini ternyata memang sudah ada sejak di APDN dulu, fungsinya pun sama seperti sekarang ini. Sehingga memang ditekankan secara turun-temurun untuk selalu dipelihara dan dijaga. Menurut salah satu anggota peniup, tanggung jawab terhadap terompet tersebut cukup berat, dalam memelihara, menjaga, dan merawatnya perlu kehatian-hatian, bahkan dalam tata cara ketika peniupan juga sangat diperhatikan. Dikatakan apabila ada kedapatan jika terompet itu rusak misalnya mouthstick hilang ataupun terompet itu penyok, maka hukuman yang didapat begitu berat, para peniup dapat jatah semua untuk diambil korsa, karena semuanya tentu berperan untuk saling menjaga dan mengingatkan. Kemudian ketika akan meniup terompet, ada tata cara yang perlu diperhatikan, tidak sembarangan jika mau ditiup. Dimulai dari ketika berjalan, membawa terompet ada caranya dengan meletakkan muka terompet itu di paha dan dipegang menggunakan tangan kanan. Selanjutnya berdoa sebelum dan setelah melakukan peniupan. Selain itu alunan yang ditiupkan pun tidak boleh salah, terkadang ada nada yang fals, ada juga nadanya yang tidak sampai selesai, sehingga membuat alunan nada yang dibunyikan terdengar jelek, tidak pas di telinga.
| Ini sobat sepetak saya Kristianus |
Tidak ada peniup maka terompet tidak berbunyi. Para peniup berperan penting terhadap terompet, menjaga, memelihara, merawat, dan meniup terompet. Terompet tidak berfungsi jika tidak ada yang meniup, segalanya tergantung kepada peniup, dengan kata lain aktivitas/kegiatan akan berjalan menunggu ada yang meniupkan terompet tersebut. Seperti itulah kebanggaan yang dimiliki oleh para peniup sangkakala yang saat ini anggotanya berjumlah 18 orang dari Muda Praja yang anggotanya mendominasi diambil dari Marching Band dan Korsik, dengan kordinator Windra Kuswara. Kebanggaan yang dimiliki oleh para praja tersebut diaplikasikan dengan sikap setia terhadap tugas dan tanggung jawab yang diemban, komentar oleh Muda Praja M.Arief Wibowo dia mengatakan, “begitu bangga menjadi anggota peniup sangkakala ini karena dimulainya segala kegiatan tergantung kepada kami yang meniup terompet.” Banyak suka duka yang dialami mereka, mereka harus bangun duluan sementara teman yang lain masih tidur, harus bersiap lebih awal dari yang teman lain ketika di hari piket terompet, dan jika terlambat meniup maka ada sanksi dari senior menunggu. Itu semua dapat membuat mereka menjadi seseorang yang bertanggung jawab terhadap tugas yang diemban dan memiliki jiwa yang amanah.
Berbicara tentang siapa anggota peniup sangkakala, yang diberikan tugas adalah Muda Praja yang tingkatannya berada paling bawah. Untuk regenerasi, setiap tahunnya ada perekrutan untuk menggantikan anggota yang lama. Bagi adek-adek capra, otomatis kalianlah yang akan menggantikan. Nanti akan ada perekrutan yang dilakukan oleh anggota peniup sangkakala itu sendiri.
©tulisan ini dibuat tahun 2011


0 komentar:
Posting Komentar