NIM : E.42010048
Kelas/Semester : A/VI
Jurusan : Ilmu Pemerintahan
Mata Kuliah : Manajemen Konflik
Dosen : Prof. Syarif Ibrahim Alqadrie, M.Sc
ABSTRAK
Dean G. Pruitt & Jeffrey Z. Rubin dalam bukunya yang berjudul Teori
Konflik Sosial pada bab VI membahas proses-proses yang dapat menimbulkan
eskalasi. Dijelaskan bahwa kondisi-kondisi yang berupa konflik yang mana paling
mungkin dan paling tidak mungkin mengalami eskalasi. Melalui berbagai rantai
peristiwa yang dialami oleh individu, kelompok, atau komunitas, Dean G. Pruitt
& Jeffrey Z. Rubin mengemukakan bagaimana rantai peristiwa tersebut
mengalami transformasi-transformasi sehingga mencapai puncak kondisi yang cocok
untuk bereskalasi.
Melanjutkan keinginan dari Dean G. Pruitt & Jeffrey Z. Rubin pada
resume bab VI ini dipaparkan mengenai peristiwa dan proses-proses yang
menimbulkan eskalasi secara lebih ringkas, padat, dan jelas. Proses-proses
tersebut diawali dari masa perkembangan pasca Perang Dunia II yakni Perang
Dingin antara Amerika dan Uni Soviet yang menampilkan tiga model konflik yaitu
agresor-defender, spiral-konflik, dan perubahan struktural. Eskalasi konflik
juga dapat terjadi dari adanya perubahan psikologis, perubahan di dalam
kolektif, dan polarisasi masyarakat yang menyebabkan konflik semakin jauh
tereskalasi.
Kata kunci : Konflik, Eskalasi, Model, Perubahan
RESUME
Dean G. Pruitt & Jeffrey Z. Rubin dalam bukunya
yang berjudul Teori Konflik Sosial pada bab VI yang diterbitkan oleh Pustaka
Pelajar pada tahun 2009, menjelaskan tentang proses-proses atau rantai
peristiwa yang dapat mengakibatkan seseorang atau kelompok atau komunitas
terjebak dalam konflik dan menuju ke arah eskalasi. Dean G. Pruitt & Jeffrey
Z. Rubin menjelaskan dengan menggunakan rangkaian peristiwa yang terjadi selama
berkembangnya Perang Dingin antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet (tidak
lama setelah tahun 1945) sebagai contoh eskalasi konflik.
Pada mulanya selama Perang Dunia Kedua antara AS dan
Uni Soviet merupakan sekutu, tetapi Soviet memilih keluar dari peperangan
dengan kecurigaan yang mendalam terhadap Barat. Kemudian Soviet mengontrol
negara-negara yang berdampingan wilayah dengannya. Tahu akan hal ini, pada 1947
AS menanggapi tindakan Soviet dengan melakukan berbagai strategi bekerja sama
dengan Negara Eropa lain di bidang militer dan ekonomi sebagai pertahanan lebih
lanjut melawan ekspansi Soviet. Langkah AS ini dianggap oleh Soviet sebagai
alarm yang keras. Konflik kedua Negara besar ini terus berlanjut dan semakin
larut karena keduanya sama-sama saling bersikeras dengan kekuatannya
masing-masing.
Tiga
Model Konflik
Menurut Pruitt & Gahagan (1974) teori mengenai
eskalasi dapat diklasifikasikan menjadi tiga model konflik yakni model
agresor-defender, model spiral-konflik, dan model perubahan struktural. Pertama model agresor-defender, terdapat
dua pihak berbeda yang saling konflik, “agresor” (pihak yang menyerang) yang
memiliki suatu tujuan tertentu untuk mengubah hal-hal yang searah dengan
kepentingannya. Keinginan perubahan tersebut mengakibatkan “agresor” terlibat
di dalam konflik bersama pihak lainnya yakni “defender” (pihak yang bertahan)
yang berusaha menolak perubahan tersebut. Untuk mewujudkan kepentingannya, sang
“agresor biasanya memulai dengan taktik-taktik yang ringan, namun apabila tidak
berhasil, ia akan berpindah ke taktik-taktik yang lebih berat dan berlanjut ke
eskalasi. “Defender” hanya semata-mata bereaksi, ia akan semakin meningkatkan
reaksinya sebagai respons terhadap eskalasi dari “agresor”. Eskalasi terus
berlanjut sampai sang “agresor” menang atau menghentikan upayanya.
Kedua model
spiral-konflik, yang menjelaskan bahwa eskalasi merupakan hasil dari suatu
lingkaran setan antara aksi dan reaksi. Ada dua kelompok besar spiral-konflik:
spiral retaliatory di dalamnya
bersifat balas-membalas, masing-masing pihak menjatuhkan hukuman kepada pihak
yang lain atas tindakan yang tidak menyenangkan (aversif). Berikutnya spiral
defensif yang mana masing-masing pihak memberikan reaksi dalam rangka
melindungi diri dari ancaman yang dirasakannya, jadi masing-masing pihak dapat
dianggap sebagai agresor atau defender. Ketiga
model perubahan struktural, menjelaskan bahwa konflik beserta taktik-taktik yang
digunakan untuk mengatasinya menghasilkan residu berupa perubahan-perubahan
yang terjadi baik pada pihak-pihak yang berkonflik maupun masyarakat di mana
mereka tinggal.
Model perubahan struktural di dalamnya terdapat
perubahan psikologis, biasanya ketika konflik bereskalasi berbagai sikap dan
persepsi negatif terhadap lawan akan berkembang, pada tahap ini sifat egoisme
memuncak, sudah tidak ada lagi kompromi dengan lawan, hampir tidak ada
imajinasi dan kreativitas, serta amarah, ketakutan, dan harga diri yang terluka
menjadi emosi yang dominan. Perubahan-perubahan ini terjadi di semua konflik
yang tereskalasi, baik yang pelakunya perorangan maupun kolektif (kelompok,
organisasi, atau negara). Hasil penggunaan taktik berat oleh pihak yang satu,
kemudian memberikan sumbangan terhadap penggunaan taktik berat yang lebih jauh
dari pihak lainnya. Jadi, konflik yang tereskalasi sering kali melemahkan
kapasitas masyarakat untuk menangani konflik yang akan terjadi di masa mendatang
dengan baik. Kemudian cara berpikir zero-sum
(“yang baik untuk mereka, tidak baik untuk kita; dan begitupun sebaliknya) yang
terbentuk masih pantas untuk diperhatikan di zaman modern ini.
Perubahan Psikologis
Perubahan-perubahan
psikologis ini yang banyak digunakan oleh penelitian, yaitu keinginan untuk
menghukum (melakukan agresi) terhadap pihak lain, sikap dan persepsi negatif,
dan deindividuasi. Keinginan untuk menghukum pihak lain atau agresi timbul
sebagai akibat pengalaman-pengalaman aversif (tidak menyenangkan), seperti
deprivasi, kegagalan mencapai aspirasi, perlakuan tidak adil, rasa sakit dan
penderitaan, dan semacamnya. Selain itu agresi dapat timbul ketika hal yang
tidak menyenangkan dianggap akibat dari kesalahan pihak lain, berikutnya juga
timbul adanya perasaan amarah dan meningginya emosional. Pada tahap ini apabila
masing-masing pihak melakukan tindakan yang sewenang-wenang maka akan terjadi
saling menghukum, dan bahkan keinginan untuk menghukum bisa saja dialihkan ke
target lain apabila seseorang tidak berani memukul atasan yang membuatnya
marah.
Sikap dan persepsi
memiliki pengertian yang berbeda, sikap adalah perasaan positif atau negatif
terhadap orang atau objek tertentu, sedangkan persepsi adalah kepercayaan
mengenai atau cara memandang orang atau objek tersebut. Sikap dan persepsi
negatif terhadap pihak lain dapat mempengaruhi ke dalam eskalasi konflik.
Setiap orang tentu mempunyai perasaan negatif (atau positif) terhadap orang
yang lain, maka perasaan tersebut cenderung dikuasai persepsi negatif (atau
negatif) mengenai orang tersebut, sehingga pada saat tertentu harus dapat
memperlakukan kedua elemen tersebut secara terpisah. Perubahan sikap dan
persepsi negatif didorong oleh hal-hal seperti ketidakpercayaan, sikap negatif,
cara berpikir zero-sum, dan
keengganan berkomunikasi dengan pihak lain.
Kemudian deindividuasi yang dialami seseorang ketika
ia dipersepsikan sebagai anggota kategori suatu kelompok daripada sebagai
seorang individu, yang dapat mengurangi hmabatan untuk bertindak agresif. Orang
yang ter-deindividuasi tampak “kurang manusiawi” dibanding mereka yang dianggap
sebagai individu, sehingga sepertinya kurang terlindungi oleh norma sosial
terhadap agresi. Dengan kata lain orang tersebut kehilangan kesadaran tentang
ciri identitasnya sendiri, sebagai contoh deindividuasi seperti bertindak
serupa dengan orang lain, mengenakan pakaian yang sama, rangsangan emosional,
dan kurang tidur sehingga orang yang terindividuasi mudah untuk menjatuhkan
hukuman terhadap orang lain.
Perubahan di dalam Kolektif
Adapun
hal-hal yang dapat menyumbangkan perubahan terhadap terjadinya eskalasi konflik,
ketika kelompok, organisasi atau negara terlibat di dalam konflik yang contentious, adalah seperti diskusi
kelompok yang sering menyebabkan sikap dan persepsi para anggota kelompok
secara individual lebih ekstrem, terjadinya perkembangan norma tak terkendali (runaway
norms), dan adanya kepemimpinan yang militan yang dapat mempengaruhi
anggota kelompoknya untuk melakukan apa yang dikatakan oleh pemimpin mereka.
Polarisasi Masyarakat
Pada tahap ini
masyarakat dapat ikut terlibat di dalam konflik yang terjadi antara pihak-pihak
yang di luar masyarakat. Biasanya pihak-pihak yang sedang berkonflik mereka
menggabungkan dirinya dengan masyarakat, sehingga sulit bagi anggota masyarakat
yang lain untuk tetap bersikap netral, karena seringkali para partisipan
kontroversi mencari dukungan dari masyakarat untuk memilih bergabung dengan
kelompoknya. Di dalam situasi semacam itu ada kecenderungan untuk saling
menyalahkan dan menyebabkan banyak pihak ketiga ikut bergabung ke salah satu
pihak yang dianggap lebih dekat dengannya. Ketika masyarakat mengalami
polarisasi, maka konflik-konflik cenderung semakin jauh tereskalasi dan
mengakibatkan lenyapnya pihak-pihak ketiga yang netral.
TANGGAPAN
Suatu
konflik yang sedang terjadi apabila telah mencapai eskalasi, pertanda bahwa
konflik tersebut mencapai tahap yang akut, di mana konflik tersebut akan
terjadi secara berkelanjutan dan semakin jauh akan sulit untuk diselesaikan.
Eskalasi konflik ini bisa saja terjadi kepada seorang individu, kelompok,
komunitas dan bahkan suatu negara. Dengan kita membaca dan memahami isi
daripada buku yang ditulis oleh Dean G. Pruitt & Jeffrey Z. Rubin
berjudul Teori Konflik Sosial pada bab VI ini, maka kita akan mengetahui
bagaimana proses-proses dari suatu peristiwa yang pada saat mencapai
kondisi-kondisi tertentu akan menimbulkan konflik yang berkepanjangan dan
semakin rumit. Pihak yang terlibat dalam konflik akan melakukan berbagai tindakan-tindakan
keras berupa strategi untuk mengalahkan lawannya dan terus meningkatkan
kekuatannya dengan tujuan agar pihak yang lain kalah, begitu seterusnya
sehingga terjadi tindakan yang saling balas-membalas, inilah yang dinamakan
eskalasi.
Pada dasarnya konflik yang terjadi antara satu pihak
dengan pihak yang lain dapat disebabkan mungkin oleh faktor atau hal yang
sepele, apabila diambil tindakan berupa solusi dengan cepat maka konflik itu
akan dapat diselesaikan. Namun lain hal apabila konflik tersebut terus-terusan didiamkan
sehingga munculnya perasaan yang saling mencurigai maka eskalasi konflik akan
terjadi. Oleh karenanya dengan kita mengetahui dan memahami proses-proses yang
menimbulkan eskalasi, tentunya diharapkan kita bisa menghindari hal-hal yang
berpotensi menyebabkan timbulnya eskalasi konflik tersebut. Pada akhirnya kita
semua berharap bahwa suatu tatanan yang telah terbentuk dapat berjalan dengan
aman, damai dan tentram.


0 komentar:
Posting Komentar