Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang bijak adalah orang yang mempersiapkan dirinya dengan beramal untuk bekalan selepas matinya. Manakala orang yang tidak bijak adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan kemudian mengharap pertolongan Allah." (HR Tirmidzi)

Senin, 04 Maret 2013

Resume Buku Teori Konflik Sosial Bab 6

Nama : MUHAMAD SADIKIN
NIM : E.42010048
Kelas/Semester : A/VI
Jurusan : Ilmu Pemerintahan
Mata Kuliah : Manajemen Konflik
Dosen : Prof. Syarif Ibrahim Alqadrie, M.Sc

ABSTRAK

Dean G. Pruitt & Jeffrey Z. Rubin dalam bukunya yang berjudul Teori Konflik Sosial pada bab VI membahas proses-proses yang dapat menimbulkan eskalasi. Dijelaskan bahwa kondisi-kondisi yang berupa konflik yang mana paling mungkin dan paling tidak mungkin mengalami eskalasi. Melalui berbagai rantai peristiwa yang dialami oleh individu, kelompok, atau komunitas, Dean G. Pruitt & Jeffrey Z. Rubin mengemukakan bagaimana rantai peristiwa tersebut mengalami transformasi-transformasi sehingga mencapai puncak kondisi yang cocok untuk bereskalasi.

Melanjutkan keinginan dari Dean G. Pruitt & Jeffrey Z. Rubin pada resume bab VI ini dipaparkan mengenai peristiwa dan proses-proses yang menimbulkan eskalasi secara lebih ringkas, padat, dan jelas. Proses-proses tersebut diawali dari masa perkembangan pasca Perang Dunia II yakni Perang Dingin antara Amerika dan Uni Soviet yang menampilkan tiga model konflik yaitu agresor-defender, spiral-konflik, dan perubahan struktural. Eskalasi konflik juga dapat terjadi dari adanya perubahan psikologis, perubahan di dalam kolektif, dan polarisasi masyarakat yang menyebabkan konflik semakin jauh tereskalasi.


Kata kunci : Konflik, Eskalasi, Model, Perubahan


RESUME


Dean G. Pruitt & Jeffrey Z. Rubin dalam bukunya yang berjudul Teori Konflik Sosial pada bab VI yang diterbitkan oleh Pustaka Pelajar pada tahun 2009, menjelaskan tentang proses-proses atau rantai peristiwa yang dapat mengakibatkan seseorang atau kelompok atau komunitas terjebak dalam konflik dan menuju ke arah eskalasi. Dean G. Pruitt & Jeffrey Z. Rubin menjelaskan dengan menggunakan rangkaian peristiwa yang terjadi selama berkembangnya Perang Dingin antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet (tidak lama setelah tahun 1945) sebagai contoh eskalasi konflik.
Pada mulanya selama Perang Dunia Kedua antara AS dan Uni Soviet merupakan sekutu, tetapi Soviet memilih keluar dari peperangan dengan kecurigaan yang mendalam terhadap Barat. Kemudian Soviet mengontrol negara-negara yang berdampingan wilayah dengannya. Tahu akan hal ini, pada 1947 AS menanggapi tindakan Soviet dengan melakukan berbagai strategi bekerja sama dengan Negara Eropa lain di bidang militer dan ekonomi sebagai pertahanan lebih lanjut melawan ekspansi Soviet. Langkah AS ini dianggap oleh Soviet sebagai alarm yang keras. Konflik kedua Negara besar ini terus berlanjut dan semakin larut karena keduanya sama-sama saling bersikeras dengan kekuatannya masing-masing.

Tiga Model Konflik
Menurut Pruitt & Gahagan (1974) teori mengenai eskalasi dapat diklasifikasikan menjadi tiga model konflik yakni model agresor-defender, model spiral-konflik, dan model perubahan struktural. Pertama model agresor-defender, terdapat dua pihak berbeda yang saling konflik, “agresor” (pihak yang menyerang) yang memiliki suatu tujuan tertentu untuk mengubah hal-hal yang searah dengan kepentingannya. Keinginan perubahan tersebut mengakibatkan “agresor” terlibat di dalam konflik bersama pihak lainnya yakni “defender” (pihak yang bertahan) yang berusaha menolak perubahan tersebut. Untuk mewujudkan kepentingannya, sang “agresor biasanya memulai dengan taktik-taktik yang ringan, namun apabila tidak berhasil, ia akan berpindah ke taktik-taktik yang lebih berat dan berlanjut ke eskalasi. “Defender” hanya semata-mata bereaksi, ia akan semakin meningkatkan reaksinya sebagai respons terhadap eskalasi dari “agresor”. Eskalasi terus berlanjut sampai sang “agresor” menang atau menghentikan upayanya.
Kedua model spiral-konflik, yang menjelaskan bahwa eskalasi merupakan hasil dari suatu lingkaran setan antara aksi dan reaksi. Ada dua kelompok besar spiral-konflik: spiral retaliatory di dalamnya bersifat balas-membalas, masing-masing pihak menjatuhkan hukuman kepada pihak yang lain atas tindakan yang tidak menyenangkan (aversif). Berikutnya spiral defensif yang mana masing-masing pihak memberikan reaksi dalam rangka melindungi diri dari ancaman yang dirasakannya, jadi masing-masing pihak dapat dianggap sebagai agresor atau defender. Ketiga model perubahan struktural, menjelaskan bahwa konflik beserta taktik-taktik yang digunakan untuk mengatasinya menghasilkan residu berupa perubahan-perubahan yang terjadi baik pada pihak-pihak yang berkonflik maupun masyarakat di mana mereka tinggal.
Model perubahan struktural di dalamnya terdapat perubahan psikologis, biasanya ketika konflik bereskalasi berbagai sikap dan persepsi negatif terhadap lawan akan berkembang, pada tahap ini sifat egoisme memuncak, sudah tidak ada lagi kompromi dengan lawan, hampir tidak ada imajinasi dan kreativitas, serta amarah, ketakutan, dan harga diri yang terluka menjadi emosi yang dominan. Perubahan-perubahan ini terjadi di semua konflik yang tereskalasi, baik yang pelakunya perorangan maupun kolektif (kelompok, organisasi, atau negara). Hasil penggunaan taktik berat oleh pihak yang satu, kemudian memberikan sumbangan terhadap penggunaan taktik berat yang lebih jauh dari pihak lainnya. Jadi, konflik yang tereskalasi sering kali melemahkan kapasitas masyarakat untuk menangani konflik yang akan terjadi di masa mendatang dengan baik. Kemudian cara berpikir zero-sum (“yang baik untuk mereka, tidak baik untuk kita; dan begitupun sebaliknya) yang terbentuk masih pantas untuk diperhatikan di zaman modern ini.

Perubahan Psikologis
            Perubahan-perubahan psikologis ini yang banyak digunakan oleh penelitian, yaitu keinginan untuk menghukum (melakukan agresi) terhadap pihak lain, sikap dan persepsi negatif, dan deindividuasi. Keinginan untuk menghukum pihak lain atau agresi timbul sebagai akibat pengalaman-pengalaman aversif (tidak menyenangkan), seperti deprivasi, kegagalan mencapai aspirasi, perlakuan tidak adil, rasa sakit dan penderitaan, dan semacamnya. Selain itu agresi dapat timbul ketika hal yang tidak menyenangkan dianggap akibat dari kesalahan pihak lain, berikutnya juga timbul adanya perasaan amarah dan meningginya emosional. Pada tahap ini apabila masing-masing pihak melakukan tindakan yang sewenang-wenang maka akan terjadi saling menghukum, dan bahkan keinginan untuk menghukum bisa saja dialihkan ke target lain apabila seseorang tidak berani memukul atasan yang membuatnya marah.
            Sikap dan persepsi memiliki pengertian yang berbeda, sikap adalah perasaan positif atau negatif terhadap orang atau objek tertentu, sedangkan persepsi adalah kepercayaan mengenai atau cara memandang orang atau objek tersebut. Sikap dan persepsi negatif terhadap pihak lain dapat mempengaruhi ke dalam eskalasi konflik. Setiap orang tentu mempunyai perasaan negatif (atau positif) terhadap orang yang lain, maka perasaan tersebut cenderung dikuasai persepsi negatif (atau negatif) mengenai orang tersebut, sehingga pada saat tertentu harus dapat memperlakukan kedua elemen tersebut secara terpisah. Perubahan sikap dan persepsi negatif didorong oleh hal-hal seperti ketidakpercayaan, sikap negatif, cara berpikir zero-sum, dan keengganan berkomunikasi dengan pihak lain.
Kemudian deindividuasi yang dialami seseorang ketika ia dipersepsikan sebagai anggota kategori suatu kelompok daripada sebagai seorang individu, yang dapat mengurangi hmabatan untuk bertindak agresif. Orang yang ter-deindividuasi tampak “kurang manusiawi” dibanding mereka yang dianggap sebagai individu, sehingga sepertinya kurang terlindungi oleh norma sosial terhadap agresi. Dengan kata lain orang tersebut kehilangan kesadaran tentang ciri identitasnya sendiri, sebagai contoh deindividuasi seperti bertindak serupa dengan orang lain, mengenakan pakaian yang sama, rangsangan emosional, dan kurang tidur sehingga orang yang terindividuasi mudah untuk menjatuhkan hukuman terhadap orang lain.

Perubahan di dalam Kolektif
            Adapun hal-hal yang dapat menyumbangkan perubahan terhadap terjadinya eskalasi konflik, ketika kelompok, organisasi atau negara terlibat di dalam konflik yang contentious, adalah seperti diskusi kelompok yang sering menyebabkan sikap dan persepsi para anggota kelompok secara individual lebih ekstrem, terjadinya perkembangan norma tak terkendali (runaway norms), dan adanya kepemimpinan yang militan yang dapat mempengaruhi anggota kelompoknya untuk melakukan apa yang dikatakan oleh pemimpin mereka.

Polarisasi Masyarakat
            Pada tahap ini masyarakat dapat ikut terlibat di dalam konflik yang terjadi antara pihak-pihak yang di luar masyarakat. Biasanya pihak-pihak yang sedang berkonflik mereka menggabungkan dirinya dengan masyarakat, sehingga sulit bagi anggota masyarakat yang lain untuk tetap bersikap netral, karena seringkali para partisipan kontroversi mencari dukungan dari masyakarat untuk memilih bergabung dengan kelompoknya. Di dalam situasi semacam itu ada kecenderungan untuk saling menyalahkan dan menyebabkan banyak pihak ketiga ikut bergabung ke salah satu pihak yang dianggap lebih dekat dengannya. Ketika masyarakat mengalami polarisasi, maka konflik-konflik cenderung semakin jauh tereskalasi dan mengakibatkan lenyapnya pihak-pihak ketiga yang netral.


TANGGAPAN

Suatu konflik yang sedang terjadi apabila telah mencapai eskalasi, pertanda bahwa konflik tersebut mencapai tahap yang akut, di mana konflik tersebut akan terjadi secara berkelanjutan dan semakin jauh akan sulit untuk diselesaikan. Eskalasi konflik ini bisa saja terjadi kepada seorang individu, kelompok, komunitas dan bahkan suatu negara. Dengan kita membaca dan memahami isi daripada buku yang ditulis oleh Dean G. Pruitt & Jeffrey Z. Rubin berjudul Teori Konflik Sosial pada bab VI ini, maka kita akan mengetahui bagaimana proses-proses dari suatu peristiwa yang pada saat mencapai kondisi-kondisi tertentu akan menimbulkan konflik yang berkepanjangan dan semakin rumit. Pihak yang terlibat dalam konflik akan melakukan berbagai tindakan-tindakan keras berupa strategi untuk mengalahkan lawannya dan terus meningkatkan kekuatannya dengan tujuan agar pihak yang lain kalah, begitu seterusnya sehingga terjadi tindakan yang saling balas-membalas, inilah yang dinamakan eskalasi.
Pada dasarnya konflik yang terjadi antara satu pihak dengan pihak yang lain dapat disebabkan mungkin oleh faktor atau hal yang sepele, apabila diambil tindakan berupa solusi dengan cepat maka konflik itu akan dapat diselesaikan. Namun lain hal apabila konflik tersebut terus-terusan didiamkan sehingga munculnya perasaan yang saling mencurigai maka eskalasi konflik akan terjadi. Oleh karenanya dengan kita mengetahui dan memahami proses-proses yang menimbulkan eskalasi, tentunya diharapkan kita bisa menghindari hal-hal yang berpotensi menyebabkan timbulnya eskalasi konflik tersebut. Pada akhirnya kita semua berharap bahwa suatu tatanan yang telah terbentuk dapat berjalan dengan aman, damai dan tentram.

0 komentar:

Posting Komentar

 

© 2009Life is Choice | by TNB