Disadur dari novel Yusuf “Sang Pejuang Mimpi” karya Fatih Beeman
“Nak, apa kamu masih ingin menjadi orang kaya?”
“Sudah satu minggu, setiap pagi, Ayah menanyakan hal yang sama tanpa ada kebosanan. Maka, jawabanku pun akan selalu tanpa kebosanan. Bahkan ketika Ayah menanyakan hal ini setiap hari, aku pun akan menjawab dengan jawaban yang sama setiap harinya.”
Dada Pak Yakub mengembang. Dia benar-benar takjub dengan jawaban anaknya. Sungguh, di kedua kakaknya, Pak Yakub tidak mendapatkan jawaban semantap ini.
“Nak, Ayah ingin bercerita kepadamu.”
“Setiap pagi, Ayah selalu bercerita kepadaku. Dan aku akan selalu senang mendengarnya.”
“Ayah ingin menceritakan tentang sosok manusia hebat. Meskipun oleh kebanyakan orang, sosok ini begitu diremehkan. Karena, barangkali, pekerjaan sosok manusia hebat ini tidak begitu menjanjikan. Namun, justru dibalik ketidakpastian itulah, kehebatannya tersimpan,” Pak Yakub memenuhi rongga dadanya dengan udara pagi.
Mereka duduk di bangku yang terbuat dari ubin. Saling berdampingan.
“Sosok manusia hebat itu adalah seorang penggali sumur.”
“Apa kehebatan penggali sumur itu, Ayah?”
“Melalui aktivitas penggali sumur, kita bisa belajar tentang hakikat hidup. Kamu bisa menggapai apa yang bisa kamu inginkan kalau kamu mampu mengimplementasikan apa yang dilakukan penggali sumur.”
“Sekarang, Ayah tanya padamu. Apa kamu pernah mendengar, yang dilakukan oleh penggali sumur itu adalah menggali tanah?”
“Sudah barang tentu, Ayah. Penggali sumur sudah pasti menggali tanah pekerjaannya karena air yang ingin mereka dapatkan ada di dalam tanah.”
Pak Yakub tersenyum. Lantas melirik anaknya yang tengah dengan antusias dan rakus memunguti hikmah yang sedang disemaikannya pada pagi ini.
“Jawaban bagus, Anakku. Penggali sumur menggali tanah pekerjaannya, karena air yang ingin mereka dapatkan ada di dalam tanah. Lalu menurutmu, bagaimana kalau penggali sumur itu malah memanjat pohon?”
“Barangkali, hanya penggali sumur gila yang melakukan itu.”
Pak Yakub terkekeh. Yusuf pun ikut terkekeh. Sementara bebungaan sudah merindukan matahari, kekasihnya. Pak Yakub melanjutkan.
“Penggali sumur menggali tanah karena mereka sudah tahu kalau air berada di dalam tanah. Berarti penggali sumur itu punya penerawangan yang hebat,” Pak Yakub menupuk pundak Yusuf.
“Penggali sumur itu sudah bisa melihat apa yang tidak bisa dilihatnya,” timpal Yusuf.
“Itulah yang disebut visi, Anakku. Itulah cita-cita. Impian. Sesuatu yang sering Ayah tanyakan kepadamu setiap pagi.”
“Dan aku sudah melihatnya, Ayah. Aku sudah melihatnya, diriku menjadi orang kaya di masa depan.”
“Dengan apa yang kamu lihat itulah kamu akan tahu kemana kamu akan melangkah, Nak. Seperti penggali sumur sudah tahu dimana air berada, sehingga langkah-langkahnya yang mereka ambil tepat adanya.”
Matahari mulai muncul. Bebungaan sudah berpaling ke sana. Embun di rerumputan pun menggeliat. Enggan mengakhiri kemesraan dengan dedaunan yang dicumbuinya semenjak mereka turun dari langit.
Pak Yakub dan Yusuf sejenak menghentikan pembicaraan. Tak ingin mereka melewatkan satu keajaiban pagi ini. Sungguh, mereka yang tidak akrab dengan pagi ini, tidak akan bisa mendapatkan keajaiban-keajaibannya.
“Ayah ingin kamu mengambil langkah-langkah yang tepat untuk bisa sampai kepada apa yang kamu inginkan itu, Nak. Seperti penggali sumur itu. Tapi, Nak, hidup tidak cukup dengan impian dan keinginan. Meskipun kamu sudah tahu jalan mana yang harus kamu tempuh, tetap saja kalau kamu tidak mulai melangkah, kamu tidak akan pernah sampai. Ingat, Nak, seribu langkah itu awalnya langkah pertama.”
“Dan aktivitas kita setiap pagi adalah langkah pertama itu, Ayah.”
Pak Yakub menganggukkan kepalanya. Rambutnya sudah hampir seluruhnya dikuasai uban.
“Nak, perhatikanlah kehebatan penggali sumur selanjutnya. Mereka hanya berhenti menggali ketika sudah lelah untuk beristirahat. Dan mereka akan menggali tanah lagi kalau sudah selesai beristirahat. Mereka terus menggali, sampai mereka mendapatkan air. Bisa kamu bayangkan kalau penggali sumur itu berhenti menggali tanah sebelum mereka mendapatkan air?”
Yusuf terdiam. Tak ingin sedetik pun ia meninggalkan remah hikmah yang disuguhkan Ayahnya.
“Sudah bisa dipastikan, Nak, mereka tidak akan mendapatkan air. Mereka hanya lelah menggali tanah tanpa hasil. Sama juga dengan mereka menggali lubang jebakan. Dan lubang itu, suatu saat, akan menjerembabkan diri mereka sendiri.
Sama halnya dengan hidup kita, Nak. Walaupun kita sudah menetapkan cita-cita, sudah tahu langkah apa yang diambil, kalau dalam mencapainya hanya setengah-setengah, kamu sendiri barangkali tahu apa yang akan didapat.”
Yusuf menganggukkan kepalanya. Sungguh, sesuatu yang bersinar telah merasuk ke dalam dirinya.
“Kalau kamu sudah menetapkan cita-cita sudah tahu apa yang harus dilakukan, lakukanlah hal itu dengan sungguh-sungguh. Bahwa jangan pernah ragu untuk melangkah, kalau kamu sudah yakin bahwa langkah yang kamu ambil benar. Karena keragu-raguan hanya akan membuatmu bimbang, bahkan bisa jadi melahirkan indikasi untuk menghentikan langkah. Sama artinya dengan membuat lubang jebakan yang akan memerosokanmu.”
Matahari makin terkatrol naik.
“Sampai di sini dulu, Nak. Besok kita lanjutkan lagi.”
“Tunggu, Yah. Aku mohon, lanjutkan cerita ini. Karena siapa tahu, besok kita sudah tak bisa lagi bercerita.”
Pak Yakub yang sudah bangkit dari duduknya, urung pergi. Dia kembali duduk di samping Yusuf yang masih lekat di tempat duduknya.
Pak Yakub menawarkan senyum. Lantas mengangguk-anggukkan kepalanya. Betapa dia bisa merasakan bahwa ada kehausan luar biasa ke dalam diri anaknya akan ilmu. Dan sebagai seorang pendidik, dia sangat senang dengan keadaan demikian.
“Baiklah, Ayah akan lanjutkan. Nak, Ayah ingin tanya kepadamu. Kapan penggali sumur itu menggali sumur baru?”
Yusuf memutar otaknya.
“Semua tergantung kepada si penggali sumur. Tapi, penggali sumur yang cerdas akan menyelesaikan sumur pertamanya sebelum menggali tanah lagi.”
“Tuhan telah memfirmankan, jika kamu selesai dari satu pekerjaan, beralihlah pada pekerjaan yang lain. Benar apa yang kamu katakan, Nak. Penggali sumur yang cerdas akan menyelesaikan satu sumur yang sedang dikerjakannya, baru dia akan mengerjakan sumur yang lain.”
“Kamu harus fokus kepada pekerjaanmu, kalau kamu ingin berhasil dalam pekerjaan. Nak, menurutmu, apa yang bisa dilakukan oleh cahaya?”
Yusuf mengerut kening. Namun, demi melihat senyum di bibir Ayahnya, Yusuf pun menjawab.
“Cahaya bisa menerangi kegelapan.”
“Setujukah kamu Ayah mengatakan bahwa cahaya bisa menembus bahkan membelah baja?”
Yusuf mendongak wajah. Baru kali ini mendengar keterangan kalau cahaya bisa melakukan apa yang bisa ditanyakan Ayahnya kepadanya. Pak Yakub kembali tersenyum.
“Kamu tahu laser, Nak? Laser adalah cahaya. Tapi laser bisa menembus bahkan membelah baja, itu bisa terjadi kalau cahaya bisa difokuskan. Suatu yang kelihatnnya mustahil untuk bisa melakukan sesuatu yang hebat ternyata bisa kalau itu sudah bisa difokuskan.
Maka, Ayah meminta kepadamu tetaplah fokus dengan apa yang kamu inginkan!”
Yusuf mengangguk mantap.
“Cerita Ayah sudah selesai. Sekarang, lakukan aktivitasmu. Mudah-mudahan besok kita masih bisa melakukan aktivitas pagi yang penuh dengan keajaiban ini,” Pak Yakub beranjak dari duduknya. Lalu pergi meninggalkan Yusuf.
Sementara Yusuf masih duduk. Dicernanya sampai halus apa-apa yang disampaikan Ayahnya di pagi yang penuh keajaiban ini.


0 komentar:
Posting Komentar