Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang bijak adalah orang yang mempersiapkan dirinya dengan beramal untuk bekalan selepas matinya. Manakala orang yang tidak bijak adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan kemudian mengharap pertolongan Allah." (HR Tirmidzi)

Rabu, 29 Mei 2013

Menjadi Pemimpin yang Dekat di Hati

Banyak orang yang jago, ahli dan menguasai bidang kerjanya, mengeluh “suara”-nya tidak didengar atau bahkan kehadirannya disepelekan oleh rekan kerja lainnya.

Seorang karyawan, Ani, dengan nada frustrasi mengeluh, “Soal pengalaman dan hasil pekerjaan, saya lebih baik. Namun, rekan saya yang hasil kerjanya tidak hebat-hebat amat, lebih didengar. Dengan situasi ini, kecil kemungkinan saya bisa dipromosikan jadi manager.”

Lain lagi Ari, yang bekerja di perusahaan konsultan global terkenal. Proyek-proyeknya sangat penting. Dan, karena kesuksesannya, ia sering diminta menjadi pembicara di berbagai seminar. “Tapi, mengapa ya, saya punya ‘feeling’ bahwa orang tidak mengerti apa yang saya terangkan dan tidak mem-'buy in' apa yang saya anjurkan?”

Bila kita amati, memang banyak sekali masalah "pengaruh" di sekitar kita. Otoritas, pengangkatan seseorang menjadi direktur, manajer, ataupun pejabat sekalipun, tidak menjamin ia bisa diterima, disayang, di-“buy in” atau juga dikenang oleh orang di sekitarnya. Kita bisa patuh tanpa "suka" pada pemimpin kita.

Masyarakat memang bebas membeli simpati pada tokoh yang dipilihnya. Kita melihat banyak upaya pejabat untuk mengembangkan pencitraan dan kedekatan dengan rakyatnya. Kadang, semakin besar upayanya, malah semakin buruk pencitraannya. Setiap ungkapan, foto, bahkan pesan twitter-nya dikomentari negatif oleh masyarakat.

Sebaliknya, beberapa waktu lalu, kita melihat bagaimana orang berbondong-bondong, mengantarkan Ustadz Jeffrey ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dari berbagai penjuru lokasi, orang-orang datang untuk menyembahyangkan jenazahnya, mengingat-ingat kebaikannya. Seolah-olah tidak seorang pun punya keinginan untuk cepat-cepat menghilangkan kenangan almarhum dari benak dan kehidupannya. Bahkan kerendahan hatinya, keinginan beliau untuk tidak menonjol pun, malah menjadi "signature voice"-nya. Terasa benar ia “dekat”, disayang, dan “hadir” di hati masyarakat. Hampir-hampir, tidak ada satu media pun yang menyebut-nyebut hal negatif mengenai Uje. Apa yang sudah dilakukan almarhum? Mengapa ia begitu dekat di hati?

Kita tahu tidak sedikit orang memoles “tongkrongan” untuk meningkatkan pengaruh. Namun, sebaliknya, kita melihat tokoh yang tidak punya "tongkrongan", seperti contohnya Ibu Teresa, bisa memimpin barisan relawan yang jumlahnya beribu-ribu orang, disayang, direspek, diikuti, sama berpengaruhnya seperti wanita besi, Margareth Thatcher.

Apa yang membuat pemimpin mempunyai keberadaan kuat seperti ini? Apa yang membuat pengikut jatuh cinta pada pemimpinnya? Apa yang membuat bawahan mengagumi dan percaya pada apa yang dinyatakan pemimpinnya?

Pendapat bahwa karakter yang merupakan "bawaan" kepribadian, sangat menentukan pengaruh, tidak selalu benar, karena orang yang pendiam, kecil tidak keren pun terkadang bisa berpengaruh. Berarti benar, some things need to be believed to be seen, kata orang.

“Earned authority”
Dari beberapa contoh, kita bisa belajar bahwa otoritas pengikut atau masyarakat seringkali diperoleh seorang pemimpin setelah ia membuktikan “harga”-nya di depan mata-kepala pengikutnya, bukan karena cerita atau kata-kata. Banyak orang mengatakan bahwa pemimpin harus menjadi model, contoh bagi pengikutnya. Namun, seringkali hal itu pun masih tidak cukup.

Kita bisa melihat bahwa pamor yang dipancarkan seorang pemimpin benar-benar datang dari tingkah lakunya. Bila individu betul-betul serius ingin mengembangkan kedekatan dan pengaruhnya, ia mesti terlihat menciptakan hal-hal yang baik, bahkan perlu membuktikan kemampuannya menghadapi situasi-situasi sulit, berkonflik, dan mendesak.

Melalui situasi seperti itulah orang bisa menyaksikan obsesi, standar, dan fokus kita sebagai pemimpin. Melalui situasi sehari-harilah orang mengetahui bagaimana kita meng-approach orang lain, berbicara secara tulus dan jujur, dan bagaimana kita menyalurkan emosi kita secara positif.

Kita tentu pernah mendengar cerita Bung Karno yang rutin mengunjungi rumah-rumah pegawai istana dan menyomot tempe goreng masakan dari dapur rumah pegawai. Bila kita telaah, sebetulnya banyak hal yang bisa dilakukan untuk menunjukkan kita “hadir” untuk tim.

Kepala pabrik, bisa melakukan briefing harian di lapangan dan kemudian berkeliling pabrik untuk menegur dan menyapa bawahan. Kepala sekolah, kadang perlu berdiri di gerbang masuk, memberi salam pagi pada setiap murid. CEO pun bisa memilih untuk tidak berada di ruangan terpisah, makan siang di kantin, bisa disapa dan didatangi siapa saja.

Semua tingkah laku ini adalah contoh bagaimana orang bisa memancarkan pamornya yang didasari ketulusan, nilai-nilai yang jelas, dan keyakinan diri. Tidak ada kekhawatiran bahwa kedekatan membuat anak buah “kurang ajar”. Tidak ditemui juga niat untuk “jaga image”.

Bisa kita bayangkan, bagaimana reaksi para follower bila pemimpin seperti ini mengajak untuk melakukan sesuatu. Otoritas tidak penting di sini, otoritas seolah sudah mengalir dalam diri pemimpinnya.

Hadir “apa adanya”
Membaur dengan bawahan atau rakyat, bukan berarti kita benar-benar "menyamakan" diri. Sebagai leader, kita mempunyai kewajiban memberi arah. Namun, dari pengalaman menghadapi satu situasi bersama, bawahan akan merekatkan perasaannya pada leader-nya. Itu sebabnya, mau tidak mau, pemimpin perlu berhati-hati dalam tindakannya.

Pemimpin perlu memiliki ketajaman persepsi dan kesiapan ekstra. Kesalahan atau masalah, perlu ditangani dengan bijaksana, tidak diulang. Bahkan, orang lain perlu menyaksikan bahwa kita sebagai pemimpin memiliki jiwa pembelajar dan berguru pada pengalaman. Walau kita tahu bahwa pemimpin perlu mempunyai visi dan pandangan jauh ke depan, orientasi "here and now"-nya tetap harus kuat.

Keberadaan pemimpin sangat berpengaruh pada spirit anak buah, untuk itu ia perlu hadir dalam proses “being in the zone”. Jadi, seorang pemimpin tidak bisa membiarkan dirinya tidak tahu apa-apa, apalagi mengatakan bahwa saat kesalahan terjadi, ia kebetulan tidak hadir di situ.

Tindakan seperti ini bukan sekadar menandakan tidak bertanggung jawabnya seorang pemimpin, tapi juga ketidakmampuannya untuk berlaku sebagai pemimpin. Pemimpin perlu bertindak apa adanya, merasa comfortable dengan dirinya, sehingga membiarkan dirinya terekspresikan apa adanya. Kita perlu ingat, kehadiran bukan suatu respons melainkan suatu pancaran yang dirasakan orang lain, secara kontinyu. Bukan sekali-sekali.

*(Eileen Rachman/Sylvina Savitri, EXPERD Consultant)
From: http://female.kompas.com/read/2013/05/29/09351066/Menjadi.Pemimpin.yang.Dekat.di.Hati?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kanawp

Jumat, 03 Mei 2013

Sekilas tentang PRODI IP Pontianak


Sejarah Pembentukan PRODI IP

Prodi IP atau Program Studi Ilmu Pemerintahan merupakan sebuah program studi ketiga di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura (FISIP-UNTAN). Lahirnya ide pembentukan Program Studi Ilmu Pemerintahan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan pemerintah (Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Kalimantan Barat) yang sangat mendesak terhadap tenaga ahli di bidang ilmu pemerintahan. Oleh karenanya Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat beserta Pemerintah Kabupaten/Kota-nya melalui Badan Pendidikan dan Pelatihan (Bandiklat) Provinsi Kalimantan Barat mengadakan kesepakatan bersama FISIP-UNTAN untuk melakukan kerjasama dalam penyelenggaraan program pendidikan dengan pola kedinasan. Penyelenggaraan Program Studi Ilmu Pemerintahan (Prodi IP) ini didasarkan pada Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 3945/D/T/2007 tanggal 23 November 2007, tentang Izin Penyelenggaraan Program Studi Ilmu Pemerintahan (S1) pada Universitas Tanjungpura. 



Visi dan Misi serta Motto Prodi Ilmu Pemerintahan


Visi
Visi Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP-UNTAN kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat adalah terwujudnya penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat) yang bermutu dalam bidang ilmu Pemerintahan, pelatihan keterampilan, dan pengasuhan mahasiswa sebagai pendukung penyelenggaraan pemerintahan daerah yang berdisiplin dan berdedikasi. 

Misi 
Misi Prodi ilmu Pemerintahan FISIP-UNTAN kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat adalah: 
1. Menyelenggarakan sistem pendidikan di bidang ilmu Pemerintahan yang berbasis pada penjaminan mutu. 
2. Melakukan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat maupun Pemerintah serta mempublikasikannya. 
3. Melakukan Pengabdian kepada Masyarakat dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi guna memberdayakan masyarakat. 
4. Menyelenggarakan sistem administrasi akademik yang berbasis pada perkembangan teknologi informasi. 
5. Mengadakan jaringan dengan menjalin hubungan kerjasama baik di tingkat lokal, regional, nasional maupun internasional. 
6. Menyelengarakan pelatihan terhadap mahasiswa sesuai kebutuhan penyelenggaraan pemerintah daerah. 
7. Menyelenggarakan kegiatan pengasuhan dan pembinaan disiplin mahasiswa serta pembinaan kader kepemimpinan yang berjiwa inovatif, kreatif dan responsif dalam tata pemerintahan. 

Motto
Dalam menjalankan aktivitasnya Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP-UNTAN kerjasama dengan Badan Pendidikan Dan Latihan Provinsi Kalimantan Barat berlandaskan pada Motto Program Studi Ilmu Pemerintahan yaitu “Belajar dan Berlatih untuk mengabdi.” 


Praja PRODI IP

PRAJA adalah sebutan untuk Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP UNTAN. Prodi IP dibentuk sebagai miniatur Kalimantan Barat karena praja yang mengenyam pendidikan di Prodi IP merupakan putra-putri hasil seleksi dari seluruh 14 Kabupaten/Kota se-Kalimantan Barat. Sehingga utusan dari tiap-tiap kabupaten/kota se-Kalimantan Barat ada di kampus Prodi IP Pontianak. 


Kampus PRODI IP 

Kampus dan asrama Prodi IP bertempat di lingkungan Badan Pendidikan dan Pelatihan (Bandiklat) Provinsi Kalimantan Barat beralamat di Jalan Gusti Johan Idrus No. 12 Pontianak Selatan tepat bersebelahan dengan SMAN 1 Pontianak. 


Tiga Pilar PRODI IP 

Dalam menjalankan proses pembelajaran, sistem pembelajaran yang berlaku pada Program Studi Ilmu Pemerintahan ini berbeda dengan program studi lain yang ada di FISIP-UNTAN. Sistem pembelajaran siswa ditetapkan dengan menggunakan 3 (tiga) pilar yaitu pendidikan, pelatihan, dan pengasuhan. 

1. Pilar Pendidikan 
Pilar ini memberikan kompetensi pengetahuan mengenai teoritis di bidang pemerintahan kepada praja. Bentuk yang dilakukan adalah dengan pelaksanaan perkuliahan umum yang sama dengan mahasiswa biasanya yang dimana berisikan mata kuliah dengan sks tertentu yang harus ditempuh tiap semesternya. 

2. Pilar Pelatihan 
Pilar ini memberikan kompetensi praktis bagi praja yang berkaitan dengan penunjang kegiatan di bidang pemerintahan. Pelatihan dilaksanakan setelah perkuliahan umum dan pengajarnya merupakan orang yang berkompetensi di bidangnya. Penyampaian bersifat praktis walaupun sering juga diselingi dengan tambahan teori sebagai penunjang. Pelatihan tersebut meliputi kemampuan berbahasa inggris, kearsipan, tata naskah dinas, pemerintahan kelurahan/desa dan kecamatan, sistem informasi kepegawaian, kependudukan dan pencatatan sipil, keprotokolan, dan lain sebagainya. 

3. Pilar Pengasuhan 
Pilar ini merupakan pilar terpenting. Pilar pengasuhan berisikan penanaman nilai kepada Praja sehingga mempunyai sifat dan kepribadian yang matang. Pengasuhan bertujuan membentuk Praja yang beriman, bertakwa, kedewasaan, sikap dan kepribadian yang baik sehingga dapat menumbuhkan nilai kepamongan. Kegiatan pengasuhan ini dilakukan secara keseluruhan mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Dalam pilar ini praja diharapkan mampu untuk memiliki rasa tanggung jawab, disiplin, mampu adaptif, kreatif, inovatif serta spritual yang baik. 


Dari ketiga pilar tersebut harapan dari terbentuknya Program Studi Ilmu Pemerintahan (PRODI IP) kerjasama Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dengan Universitas Tanjungpura Pontianak adalah dapat menghasilkan tenaga ahli di bidang pemerintahan yang profesional, berkarakter, berkualitas dan mempunyai jiwa kepamongan khususnya bagi Kalimantan Barat.

Kamis, 02 Mei 2013

Sebuah Kiriman untuk Gerakan Pramuka di Ngabang


Salam Pramuka !
Halo kakak-kakak sekalian apa kabar?

Sebuah kebahagiaan bisa melihat perkembangan Pramuka di kota Ngabang tercinta... Setelah sekian lama tidak aktif lagi di gugus depan.

Dulu saat saya masih aktif di gugus depan sekitar tahun 2008-2010 (3 tahun lalu), seingat saya di Ngabang cuma ada 2 gudep saja yang aktif yakni SMA 1 dan Maniamas (jika kurang mohon ditambah). Bahkan gudep di SMA 1 (Abdul Kahar) bisa dibilang gudep yang baru, setelah beberapa tahun divakumkan karena suatu alasan tertentu. Baru kemudian berdiri lagi pada tanggal 22 Februari 2008. Di situlah tonggak awal perjalanan pramuka di SMAN 1 Ngabang yang terlahir kembali.

Angkatan 1 & 2 Gudep Abdul Kahar di depan pintu keraton Ismahayana Ngabang, Kab.Landak - 2009


Berkat kreativitas, inovasi, usaha dan perjuangan keras dari anak-anak muda yang tergabung dalam keanggotaan secara turun-menurun, Pramuka Abdul Kahar masih bertahan dan berjaya hingga sekarang... Kita patut berikan apresiasi buat mereka agar ke depannya terus lahir anak-anak muda yang luar biasa seperti mereka di Kota Ngabang. Amiin...

Gudep Abdul Kahar ikut TSC - April 2013

Tidak hanya di SMA 1 dan Maniamas, saya dapat kabar gerakan pramuka di Ngabang makin tumbuh di sekolah-sekolah yang lain, dari SD, SMP, dan SMA. Ini adalah sesuatu yang membanggakan bagi kami-kami sebagai generasi terdahulu. Karena melalui gerakan pramuka kita dapat menjadikan generasi muda sebagai manusia mandiri, peduli, bertanggung jawab dan berpegang teguh pada agama, nilai dan norma masyarakat.

Semoga ke depannya Pramuka di Bumi Intan semakin terorganisir dengan baik dan lahir pemuda-pemudi yang peduli dengan nasib negara dan bangsa serta pembela masyarakat. Karena di tangan para pemuda lah Negeri ini akan jaya...

Kata Bung Karno :
"Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan ku cabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia"
 

© 2009Life is Choice | by TNB