(Disadur dari Lembaga Dakwah Uswatun Hasanah)
Kategori Kaya dan Miskin menurut Alquran dan Sunnah, ada manusia yang :
1. Miskin di dunia dan miskin pula di akhirat
2. Kaya di dunia juga kaya di akhirat
3. Kaya di dunia namun miskin di akhirat
Tentang orang yang miskin di akhirat, Al-Imam At-Tirmidzi di dalam sunnannya, (No. 2342) meriwayatkan bahwa Abu Hurairah RA mengabarkan bahwa Rasulullah SAW pernah pada suatu hari bertanya kepada para sahabat:
“Tahukan kalian siapa orang yang muflis (bangkrut dalam konteks Islam)?”
Para sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut menurut kami ya Rasulullah, ialah orang yang tidak mempunyai dirham (uang) dan (tak punya) harta benda”.
Rasulullah SAW berkata: “Orang yang bangkrut di kalangan umatku ialah orang yang pada hari kiamat datang dengan membawa (dosa) memaki si A, menuduh si B, memakan harta si C (termasuk memakan uang hasil utang yang diniatkan tidak dibayar), menumpahkan darah si D dan memukul si E, maka diambil kebaikannya lalu diberikan kepada orang yang dizaliminya. Kalau ternyata kebaikannya sudah habis, sedang dosanya masih ada, maka dosa orang yang dizaliminya itu dipikulkan kepadanya, lalu akhirnya dilemparkanlah ia ke dalam neraka…”. (HR. Muslim)
Kemudian kaya di dunia versi Rasulullah SAW sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Hiban, Abu Dzar RA berkata:
“Rasulullah SAW berkata padaku: “Wahai Abu Dzar, menurutmu, apakah banyaknya harta yang dinamakan kekayaan?”
“Benar”, jawab Abu Dzar.
Nabi bertanya lagi: “Apakah menurutmu sedikitnya harta berarti fakir?”
“Betul”, Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa.
Nabi lalu bersabda: “Sesungguhnya kekayaan adalah kayanya hati (hati selalu merasa cukup), sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati selalu merasa tidak puas)”.
KAYA HATI itu bagaimana sih ?
Ulama mengatakan: kaya hati adalah merasa cukup terhadap apa yang engkau butuhkan. Jika lebih dari itu dan terus engkau cari juga, maka itu berarti bukanlah ghina (kaya hati), tetapi miskin hati.
Hal ini sejalan dengan ucapan Al-Imam An-Nawawi RHM: “Kaya yang terpuji adalah kaya hati, yang selalu merasa puas dan tidak tamak dalam mencari kemewahan dunia. Kaya yang terpuji bukanlah dengan banyaknya harta dan terus menerus ingin menambah dan terus menambahnya. Siapa yang terus mencari dalam rangka untuk menambah kekayaan yang sudah ada, ia tentu tidak pernah merasa puas dan ia berarti bukan orang yang kaya hati”.
Namun bukan berarti kita tidak boleh kaya harta. Sebab Rasulullah SAW dalam ini bersabda: “Tidak apa-apa dengan kekayaan bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan”. Kaya harta itu tak tercela, yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qana’ah) dengan apa yang Allah SWT berikan.
Mudah-mudahan bacaan ini dapat dipahami dan membuat kita mengerti seperti apa kaya hati itu, yang insyaAllah jika kita paham maka tidak akan terpikir sedikitpun untuk melakukan tindakan yang mengarah ke KORUPSI.


1 komentar:
Suka banget tulisan yg ini :)
Posting Komentar