Disadur dari novel Yusuf “Sang Pejuang Mimpi” karya Fatih Beeman
“Nak, apa kamu masih ingin menjadi orang kaya?”
“Sudah satu minggu, setiap pagi, Ayah menanyakan hal yang sama tanpa ada kebosanan. Maka, jawabanku pun akan selalu tanpa kebosanan. Bahkan ketika Ayah menanyakan hal ini setiap hari, aku pun akan menjawab dengan jawaban yang sama setiap harinya.”
Dada Pak Yakub mengembang. Dia benar-benar takjub dengan jawaban anaknya. Sungguh, di kedua kakaknya, Pak Yakub tidak mendapatkan jawaban semantap ini.
“Nak, Ayah ingin bercerita kepadamu.”
“Setiap pagi, Ayah selalu bercerita kepadaku. Dan aku akan selalu senang mendengarnya.”
“Ayah ingin menceritakan tentang sosok manusia hebat. Meskipun oleh kebanyakan orang, sosok ini begitu diremehkan. Karena, barangkali, pekerjaan sosok manusia hebat ini tidak begitu menjanjikan. Namun, justru dibalik ketidakpastian itulah, kehebatannya tersimpan,” Pak Yakub memenuhi rongga dadanya dengan udara pagi.
Mereka duduk di bangku yang terbuat dari ubin. Saling berdampingan.
“Sosok manusia hebat itu adalah seorang penggali sumur.”
“Apa kehebatan penggali sumur itu, Ayah?”



